Bidadari-bidadari

September 22, 2009

Bidadari-bidadari kecilku….
Hidup ini adalah guru
Temukanlah guru dalam hidupmu
Yang mengajarimu banyak hal tentang hidup
Seperti hadirmu dalam hidupku
Yang terus membuat guratan demi guratan penuh arti
Dalam lukisan kehidupanku

Aku ajari kau bicara
Kau ajari aku berlaku sabar
Aku ajari kau berjalan
Kau ajari aku bertindak bijak
Aku ajari kau bermain
Kau ajari aku berbuat adil
Bukankah kita sama belajar..??
Dalam sekian rentang waktu yang telah kita lalui
Dan akan selalu begitu
Sepanjang waktu

Bidadari-bidadari kecilku…..
Maafkan aku karena kadang tak menyelamimu terlalu dalam
Seperti aku memaafkanmu atas tumpahan susu di atas karpetku
Maklumi aku karena sering tak memahami tingkahmu
Seperti aku memaklumimu atas mainan berserakan di ruang tamuku
Bukankah kita sama belajar…??
Dalam sekian rentang waktu yang telah kita lalui
Dan akan selalu begitu
Sepanjang waktu

Pamulang, 16 September 2009
Untuk empat bidadari dalam surgaku:
Risyda, Azka, Difa, Nayla

I Love You So Much


SENINAR DAN WORKSHOP SAINS

Agustus 4, 2009

Hari Sabtu tgl 25 Juli 2009 menjadi begitu berarti buat kami sebagai penyelenggara Seminar dan Workshop Sains.  Betapa tidak, ini kali pertama kami mengadakan event yang lumayan besar dengan mengundang guru-guru se-kecamatan Sawangan.

Awalnya memang bisa dikatakan, kegiatan ini “hanya” merupakan “side effect”.  Saya yang mendapat tugas sebagai guru sains di sekolah ini merasa belum banyak tahu tentang cara penggunaan KIT IPA yang kebetulan tersedia di sekolah.  Akhir tahun 2008 yang lalu, beberapa “kebetulan-kebetulan” yang lain rupanya menuntunku untuk mulai bersentuhan dengan dunia maya, sampai akhirnya ikutan facebook dan buka blog.  Dari media itulah, akhirnya saya bertemu kembali dengan teman-teman lama termasuk teman saya yang sekarang telah menjadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah, namanya Yanti Herlanti.  Selain sebagai teman seangkatan waktu kuliah dulu, saya sempat menjadi partner (atau lebih tepatnya asisten, karena dia leadernya) dalam penelitian  inovatif tentang rumput laut.  “Kebetulan” juga, sekarang dia aktif di Center for Science Education (CSE) yaitu sebuah lembaga yang concern di bidang pendidikan sains dan pengembangannya.  Jadi untuk soal kurikulum IPA, termasuk penggunaan KIT IPA tentu jadi makanannya sehari-hari.

Waktu pertemuan pertama kami sejak lulus kuliah di IPB, aku mengatakan ingin mengikuti pelatihan tentang metode pembelajaran dan penggunaan KIT IPA. Namun dari pembicaraan itu, akhirnya aku malah memberanikan diri untuk menjadi Event Organizer (EO) pelatihan sains. Saya pikir, kalau di SD tidak terakomodir, saya akan mengakses dari TK karena saya juga mengelola sebuah TK dan kegiatan ini akan melibatkan guru-guru TK dan SD dengan prinsip mengenalkan fun science.

Kenekatan itu akhirnya membuahkan hasil.  Ternyata di SD Pd Petir 03, tempat saya mengajar, niat saya itu mendapat tanggapan positif dari rekan-rekan guru dan juga kepala sekolah.  Akhirnya dari beberapa kali pertemuan dengan Yanti baik secara nyata maupun maya, disepakati untuk mengadakan seminar dan workshop.  Sedianya akan dilaksanakan 2 hari, tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk mengadakannya sehari penuh yaitu di hari Sabtu tgl 25 Juli 2009.

Walaupun tidak memenuhi target dalam jumlah peserta, tapi secara umum pelaksanaan seminar dan workshop tersebut berjalan lancar dan peserta juga terlihat sangat antusias selama mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.

Dari kegiatan ini, banyak hal yang kami dapatkan, terutama bagi saya yang masih banyak kekurangan.  Salah satunya adalah, saya belajar bahwa sesuatu akan menjadi baik jika sejak awal kita niatkan Lillahi Ta’ala, mencari keridhoan Allah.

Keputusan saya untuk menceburkan diri di dunia maya bukan keputusan yang mudah karena jika salah sedikit saja dalam melangkah maka seluruh dunia akan menjadi saksi dalam hitungan sepersekian detik.  Sebab itu, kuniatkan semua ini untuk menebar manfaat pada siapapun dimanapun dan aku mohon pada Allah atas bimbinganNya agar tidak salah dalam melangkah.

Paling tidak, dengan terselenggaranya kegiatan ini, niat tebar manfaat itu sudah menemukan jalannya.  Pertemuanku dengan teman lamaku di dunia maya dapat memberikan hal baru bagi dunia pendidikan.  Lingkupnya kecil memang… tapi bukankah sebuah langkah besar pasti dimulai dari langkah yang kecil….?  Semoga ada langkah-langkah berikutnya yang dapat “mengubah dunia”….


Bagian Tersulit Bagi Seorang Ibu

Juli 16, 2009

Malam ini, 16 Juli 2009, aku mendapat kabar dari sekolah Azka kalau anak keduaku itu sedang di ruang UKS karena sakit perut.  Dia sedang mabit (bermalam.Red) di sekolah dalam rangka kegiatan MOS.  Memang siang ini dia telat makan karena datang ke rumah hampir jam 3 sore karena harus jalan kaki dari tempat angkot berhenti.  Aku memang menjemput dia seperti biasa, tapi agak kurang connect di mana posisinya saat itu, jadi kami berselisih jalan.

Tanpa istirahat, langsung mandi dan makan siang yang kesorean lalu sholat Ashar, kami langsung berangkat lagi ke sekolahnya karena semua harus kumpul jam 5 sore.

Waktu aku pulang, dia fine-fine aja.  Ceria seperti biasa dan tidak pernah sungkan untuk menciumku bertubi-tubi dimanapun dia berada.

Tapi baru saja, aku mendapat telpon dari gurunya tentang kondisinya.  Satu hal yang membuat airmataku tak kuasa terbendung.  Waktu gurunya bertanya, apakah aku perlu datang, dia menjawab dalam kondisi sakitnya, “Gak usah Bu, saya mau mandiri…..”.

Yaa Allah…..…Azka, anak yang paling aku khawatirkan di antara anak-anakku yang lain karena sifat ketergantungannnya yang sangat tinggi, sekarang mengatakan hal yang tak terduga seperti itu…..

Aku mohon pada guru anakku untuk menyampaikan salam padanya dan mengatakan betapa kami bangga, sangat bangga memilikinya.

Langsung aku telpon suamiku yang sedang berada di luar kota dan menceritakan semuanya.  Seperti biasa dia segera mendoakan kebaikan bagi semua dan mengatakan, “…ini bagian tersulit bagi seorang Ibu kan………?”

Ya, dan di ujung telpon leherku tercekat tak mampu lagi berkata-kata…


Anakmu Bukan Milikmu

Juni 20, 2009

Sudah beberapa kali aku membaca puisi itu, tapi entah mengapa kali ini puisi itu terasa begitu menyentuh. Mungkin karena aku memang sedang ’klik’ aja atau karena momentnya yang pas. Puisi itu sangat popular. Karangan seorang penyair dan filsuf asal Lebanon, Kahlil Gibran. Bunyinya antara lain seperti ini:

Anakmu bukan milikmu
Mereka putra putri Kehidupan
Yang rindu pada dirinya
Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu
Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu
Sebab mereka punya alam pikiran sendiri
Berikan tempat bagi raganya, tetapi tidak untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka penghuni masa depan
Yang tiada dapat kau kunjungi,
Juga tidak dalam mimpi……
Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun tidak membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur
Juga tidak tenggelam di masa silam……

Subhaanallah…… puisi yang indah dan penuh makna. Tanpa terasa air mataku mengalir, padahal sekali lagi puisi itu telah sering kubaca. “Ya Allah… aku berlindung kepadaMu dari melakukan keburukan dan kedzoliman kepada anak-anakku…..”

Kadang kita tidak menyadari, sesuatu yang membuat hati kita kesal adalah jika anak-anak kita melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan atau tidak kita sukai dan sebaliknya kita akan merasa gembira dan bangga jika mereka menuruti semua mau kita, semua kehendak kita. Padahal tidak selamanya orang tua benar dalam segala hal, dan tidak selamanya anak tidak tau apa yang baik untuk diri mereka sendiri. Arogansi dan egoisme orang tua seringkali mengalahkan hak anak sebagai seorang pribadi yang dapat bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Contoh aja, sejujurnya, aku sering merasa kurang nyaman melihat anak-anakku belajar di depan tivi. Aku tau masing-masing anak punya gaya belajar yang berbeda, yang membuat mereka nyaman dan ‘enjoy’. Tapi aku pikir, mbok ya jangan di depan tivi gitu…. (takut ketuker ya nama pahlawan sama nama bintang sinetron??? He..he..). Tapi mungkin aku juga tidak harus bersikap terlalu kaku dalam menyikapi hal ini. Gak usah yang sampe keluar tanduk atau mata melotot seperti mau copot atau bimoli (bibir monyong lima senti) gitu kali ya…?!

Orang tua memang harus tetap punya aturan yang jelas dalam keluarga, supaya semua berjalan dengan kaidah yang semestinya. Tapi sekali lagi tidak semua pendapat orang tua pasti benarnya dan anak jadi tidak punya hak menentukan jalannya. Intinya, kesepakatan menjadi hal penting yang harus ditempuh, agar semua menjadi indah dan harmonis. Kalau diberi kepercayaan, sebenarnya anak-anak juga bisa koq tanggung jawab pada dirinya dan tugas-tugasnya. Tinggal kita sebagai orang tua mengarahkan dan membimbing mereka dengan full kasih sayang, bukan dengan paksaan atau tekanan. Buat mereka comfort dan kita akan lihat betapa dahsyatnya hasil kerja keras mereka.

Alhamdulillah, paling tidak hari ini aku dapat 2 kabar gembira, Si kakak peringkat kedua di kelasnya dan si Ade lulus SD dengan nilai rata-rata UASBN 8.50. Makanya aku bilang pada mereka, “Wah, kalo belajarnya gak sambil nonton tivi, mungkin Kakak bisa peringkat satu dan Ade bisa dapet rata-rata 9 ya?”

Rupanya ada aja cara buat kita orang tua membela diri yah…. (He..he.. gak mau kalah aja….)


Rasa Kehilangan

April 28, 2009

24 April 2009

Tukang sayur langgananku tadi bercerita tentang seorang anak yang baru saja kehilangan ayahnya.  Kebetulan anak itu juga muridku di sekolah.   Ayahnya meninggal karena kecelakaan pesawat Aviastar di Wamena pada 9 April yang lalu (pas saat pemilu 2009).  Anak itu tadi meledek tukang sayur langgananku, yang juga langganan ibunya.  Katanya, “Kasian deh Abang, gak bisa ketemu Papa lagi….”.  Si Abang kontan terhenyak dan mengatakan dadanya terasa sesak menahan haru…

Begitu polosnya anak-anak sampai saat ia “yang seharusnya” merasa kehilangan malahan justru “mengasihani” orang lain atas rasa kehilangan yang ia miliki.  Padahal jika ia tahu, orang lain yang mendengar kalimat polosnya itu merasa sedih dan terharu.  Betapa ia yang masih sangat belia, – usianya sekitar 7 tahun-, sudah ditinggal orang yang mencintai dan dicintainya, ditinggal orang yang menjadi tulang punggung keluarganya,  ditinggal orang yang sangat berjasa dalam hidupnya, panutannya, idolanya….. Betapa…

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.  Dan sesunguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung.  Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS Ali Imran (3): 185).

Begitulah Allah telah menggariskan dalam aturannya, bahwa hidup di dunia pasti ada akhirnya, ada kesudahannya, karena semua jiwa akan merasakan mati dan kembali ke hadiratNya untuk mempertanggungjawabkan semua amalan semasa hidupnya.  Dan beruntunglah orang-orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.  Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang beruntung itu.. Aamiin…


Main Hujan-hujanan

April 21, 2009

Main Hujan-hujanan

Lakukan pekerjaaanmu dengan hati

Waktu itu aku masih bersekolah di SD. Pernah suatu kali, kami sedang main kasti, tiba-tiba hujan turun. Sebagian anak, terutama anak perempuan, berlarian mencari tempat berteduh. Permainan belum selesai, karenanya Pak Pardi, Guru Olahraga kami memanggil kami kembali ke lapangan. Sebagian menolak untuk kembali ke lapangan karena takut sakit. Aku termasuk yang kembali ke lapangan dan melanjutkan permainan.

Memang hujan tidak terlalu deras dan juga tidak lama. Tapi badan kami cukup lumayan basah. “Pak, ntar kalau kita pada sakit gimana?” kata anak-anak waktu itu. Dengan santai Pak Guru menjawab, “Percaya gak, kalau hati kita senang, kita gak bakalan sakit deh. Tapi kalau dari pertama kamu udah merasa takut sakit, yah jangan salahin Bapak kalau kamu sakit”.

Waktu itu aku masih SD. Tapi kata-kata Guruku itu selalu aku ingat sampai sekarang. Melakukan pekerjaan itu harus dengan hati. Harus selalu gembira, bersemangat dan jangan gampang menyerah. Apapun pekerjaan kita. Maka pekerjaan beratpun akan terasa ringan dan ibadah kita dengan melakukan pekerjaan itu akan semakin sempurna.

====================================================

Hadiah yang Retak

Nilai dari sebuah hadiah ada pada ketulusannya

Aku masuk ke sebuah swalayan dekat sekolahku – di sebuah SLTP Negeri di daerah Kampung Melayu – dengan terburu-buru. Waktu itu musim hujan dan saat itu bulan Desember tepatnya tanggal 18.

Aku tidak punya uang banyak karena memang uang sakuku tidak pernah berlebih. Tapi kukumpulkan sisa ongkos metrominiku setiap hari agar bisa membelikan hadiah di ulang tahun Mama.

Bulan lalu, aku juga membelikan Papa hadiah ulang tahun di sini. Sebuah cangkir berwarna coklat muda dengan tatakannya yang bertuliskan “Papa”. Aku sangat berharap pasangan cangkir itu yang bertuliskan “Mama” masih ada di sini. Beberapa hari yang lalu memang masih ada, tapi entah hari ini. Kalau saja waktu itu uangku sudah terkumpul, pasti akan aku beli saat itu juga. Jadi aku gak perlu deg-degan seperti sekarang.

Bergegas aku menuju ke rak barang pecah belah. Syukur Alhamdulillah, cangkir “Mama” masih berada di tempatnya. Tanpa ragu lagi, kuambil cangkir itu dan kubawa ke kasir. “Akhirnya…”, kataku dalam hati, “Penantianku tidak sia-sia.”

Hari masih hujan. Di pintu swalayan banyak orang berdesak-desakan. Ada yang mau masuk, ada yang mau keluar dan ada juga yang sedang berteduh. Seseorang tiba-tiba menyenggol kantong belanjaanku dan…. ..cangkir “Mama” jatuh dari tanganku. Rasanya aku ingin memaki-maki orang itu, tapi aku pikir tak ada gunanya. Ya Allah….akankah penantianku sia-sia belaka?

Hari masih hujan, tapi kuteruskan langkahku menuju terminal Kampung Melayu. Aku ingin cepat pulang dan mengucapkan Selamat Ulang Tahun pada Mama walau tanpa apa-apa.

Cangkir itu memang pecah, tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk merekatkannya kembali. Kucium dan kukatakan pada Mama hadiah ini memang tidak “berharga” apalagi sekarang sudah tidak utuh lagi, tapi cintaku pada Mama yang membuatku tetap ingin mempersembahkannya untuk orang yang aku cintai.

Mama menerima hadiah “tak berhargaku itu” dengan binar kebahagiaan di matanya. Ia pasti tahu, kalau aku sangat dan sangat mencintainya.

Sejak Mama tiada, cangkir “Mama” itu kubawa ke rumahku sendiri bersama dengan cangkir “Papa”. Aku mau benda-benda itu, yang pernah kujadikan persembahan rasa cintaku, juga mengingatkanku bahwa berkat cinta Papa Mamaku yang membuatku hidupku lebih berarti.

Bersyukurlah mereka yang masih memiliki orang tua apalagi jika masih ada keduanya. Berdo’alah selalu agar mereka diberi usia yang panjang. Dengan begitu, tersedia waktu yang panjang pula bagi kita untuk berbakti dan membahagiakan mereka walau kita tahu tak ada yang bisa menggantikan setetes keringatpun yang telah mereka cucurkan demi kita, anak-anaknya…………


Nenek yang Harus Bayar

April 3, 2009

Nenek yang Harus Bayar

Suatu hari, sahabat saya bercerita tentang kedua anaknya. Kebetulan sahabat saya itu masih tinggal bersama orang tuanya. Pernah suatu hari, Nenek bergurau pada cucunya. Katanya, “Coba kalau ayah kamu bayar kontrakan tiap bulan ama Nenek, pasti sekarang Nenek udah kaya ya.” Dengan polosnya sang cucu berkata, “Harusnya Nenek juga bayar sama aku dan adek karena Nenek kan suka ketawa kalau liat aku ama adek lagi lucu.” Spontan si Nenek tertawa terbahak-bahak karena tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari cucunya.

Kalau saja kita para orang tua mau jujur pada diri sendiri, sebenarnya orang tua harus membayar mahal untuk setiap kebahagiaan yang mereka dapatkan dari anak-anaknya! Hanya kebanyakan dari kita kadang enggan mengakuinya. Oleh karenanya, kita harus syukur atas anugerah besar yang Allah berikan pada kita. Bersyukurlah kita bisa tertawa sekaligus menangis karena mereka. Bersyukurlah dan berbuatlah yang terbaik untuk mereka, buah hati kita…..


SEBELUM TERLAMBAT

April 3, 2009


Sering kita tidak menyadari bahwa kehidupan kita dapat berakhir kapan saja, dimana saja dan dengan cara apa saja. Inginnya kita dipanggil setelah anak-anak kita jadi “orang”, di tempat yang nyaman dan dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai dan kita cintai. Tapi pada kenyataannya semua itu adalah misteri ilahi, rahasia Allah, Sang Empunya Hidup.

Begitu pula yang dialami oleh sebagian manusia di muka bumi ini. Mungkin malam harinya mereka masih bersenda gurau dengan keluarga, masih bisa bercengkrama dengan handai taulan dan mungkin sedang merencanakan sesuatu di keesokan harinya. Siapa sangka? Sebagian dari mereka ternyata tidak menemui hari esok dan lepas nyawa dari jasadnya pada saat sedang terlelap, dengan cara yang berbeda-beda. Hanyut oleh air/gelombang, terbakar, tenggelam atau karena sakit.

“ Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di malam hari di waktu sedang tidur?”(QS Al A’raf:97)

Kita tidak mengetahui apapun yang akan terjadi karena hidup kita hanyalah saat ini. Jangankan esok hari, detik berikutnya dari yang kita alami saat inipun, kita tidak mengetahuinya. Jika kita selalu mengingat hal itu, insya Allah diri kita akan terhindar, paling tidak kita memiliki rambu-rambu dalam menjalani kehidupan ini. Tanyakan selalu pada diri kita, bagaimana jika nyawa kita melayang pada saat kita sedang berbuat keburukan, melanggar aturan Allah atau mendzolimi sesama? Na’udzubillahi min dzalik..

Berbuatlah yang terbaik kapanpun dan dimanapun mumpung Allah masih memberi kesempatan. Beribadahlah selagi Allah masih menganugrahkan kesehatan. Bershodaqohlah mumpung Allah masih menitipkan harta. Jika dengan kehendakNya, semua yang kita miliki telah diambil kembali olehNya, apa lagi yang bisa kita perbuat selain menyesal di akhirat.

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kami, lalu ia berkata: “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh. Dan Allah sekali-sekali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya.  Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Munaafiquun: 10 -11).

Sebait doa hendaknya selalu kita panjatkan pada Sang Maha Hidup:

“Ya Allah…berikan kekuatan pada Kami untuk senantiasa istiqomah di jalanMu, menjalankan perintahMu dan menjauhi laranganMu…. Amiin”


SEMUA ADA SAATNYA

Maret 15, 2009

SEMUA ADA SAATNYA

Anakku yang kedua, tahun ini akan keluar dari pendidikannya di sekolah dasar (insya Allah).  Beberapa kali aku merayunya untuk masuk pesantren, tapi kelihatannya dia belum respon.  Tapi entah kenapa, sore tadi selepas ashar, ia begitu bersemangat mengajakku melihat pesantren (MTs Boarding School) yang tidak terlalu jauh dari rumah.  Dandanannyapun begitu rapi.  Biasanya ia pakai jilbab instan, tapi kali ini ia memakai jilbab kain persegi dengan bros sebagai pelengkapnya.

Tidak seperti biasanya, kami pergi hanya berdua (biasanya pasukan bodrex ikut semua).    Jujur, aku agak kaku.  Walaupun maksud kedatangan kami kesana baru sekedar lihat-lihat, tapi kenapa aku begitu tegang ya??

Sesampainya di sana, aku tanyakan beberapa informasi penting yang kami perlukan.  Ternyata untuk masuk ke sekolah itu harus lulus seleksi karena setiap tahun hanya menerima sekitar 25 orang dan pendaftarnyapun bukan hanya dari pulau Jawa tetapi dari berbagai daerah di Indonesia.  Para santri hanya diizinkan pulang setelah ujian semester dan menjelang Idul Fitri.

Anakku tetap bersemangat seperti saat kami berangkat tadi.  Di jalan, dia juga sudah merancang berbagai hal yang akan dilakukannya dan juga permintaannya dibelikan jilbab kain persegi dengan warna yang berbeda-beda.

Aku tercekat.  Inikah waktuku?  Waktu yang mau tidak mau pasti akan sampai juga menghampiriku?  Waktu dimana aku harus “melepas” satu per satu anak-anakku untuk bertebaran di bumi Allah, mencari ilmunya, mencari rizqinya…..dan tak lagi berada di sisiku seperti saat ini?

Tadinya aku yang begitu menggebu-gebu mempromosikan pesantren untuk anakku, tapi sekarang aku sendiri yang “kebingungan” mengendalikan gejolak dalam diriku dan mempertanyakan kesanggupanku untuk melepas kepergiannya.

Pikiranku melayang, teringat saat anak-anak begitu sulit dikendalikan, saat mereka selalu merengek jika meminta sesuatu, saat mereka selalu menjadi “buntut” kemanapun aku pergi.

Ya Allah…..semua ada saatnya, semua ada jalannya. Tak kuasa kuteteskan airmata setibanya di rumah.  Kusembunyikan rasa gundah yang menggangguku.  Aku tidak ingin semua jadi berantakan…

Sering kita kesal pada anak-anak, pada rengekan mereka, pada jeritan mereka, pada tingkah laku mereka yang tidak sesuai dengan keinginan kita.  Tapi suatu saat…. seperti yang kurasakan saat ini…. kita akan merindukan itu semua, rengekan mereka, tangisan mereka bahkan tingkah laku mereka yang aneh-aneh itu…. Dan bahkan suatu saat nanti.. kita yang akan merengek dan memohon pada mereka untuk hadir di tengah kita.

Anak-anakku, maafkan aku… Sejak saat ini akan aku “nikmati” semua rengekanmu sebagai rangkaian dari proses hidupku dan juga hidupmu.      Aku mencintai kalian… sangat….. Kudoakan yang terbaik untukmu…selalu…


Makna Tersembunyi

Februari 22, 2009

Kita sering tak menyadari bahwa kadang ada hal baik yang tersembunyi di balik hal yang kita pandang buruk

Sudah hampir satu jam aku kebingungan mencari file-ku karena ada beberapa catatan yang harus aku selesaikan. Aku tanyakan pada ketiga anakku, barangkali mereka melihat atau paling tidak mengingat dimana terakhir mereka melihat file itu.

Tak satupun dari mereka mengakui melihat ataupun mengingatnya, walaupun aku ingat satu hari sebelumnya paling tidak satu dari mereka mengatakan akan meminjam file itu barang sebentar tapi aku melarangnya.

Sia-sia kutanyakan hal itu pada mereka berulang kali karena mereka lebih asyik main rumah-rumahan daripada menyimak berondongan pertanyaanku. Sampai akhirnya aku temukan sendiri file itu ada bersama tumpukan buku dan baju yang menyatu di atas tempat tidur mereka.

Senyum legaku baru mulai mengembang ketika kulihat begitu banyak coretan memenuhi halaman demi halaman file-ku. Begitu banyaknya coretan itu sampai aku bergegas keluar kamar untuk memarahi “sang pelukis” karena telah berani memakai barang yang bukan miliknya. Namun belum sempat aku keluar, mataku menangkap sebuah tulisan yang membuatku terduduk kembali.

Dengan tulisan cakar ayamnya, kubaca karya buah hatiku:
“Semoga Umie dan Abie dilindungi Allah SWT. Amien”

Ya Allah, ampuni aku… Hampir saja aku melakukan hal buruk pada anak-anakku. Mereka hanya melakukan apa yang ingin mereka lakukan dengan kepolosan dan keluguannya.

Dan kata-kata itu membuatku tersadar, bahwa sesungguhnya ada banyak hal baik yang tersembunyi di balik apa yang sering kita anggap suatu keburukan………….


Rajin Sholat

Januari 22, 2009

Dulu teman saya pernah bercerita sambil memuji teman kampusnya yang katanya rajin sholat. “Maksudnya apa?” tanya saya. Lalu dia mengatakan bahwa temannya itu rajin sholat lima waktu, “Gak pernah bolong,” katanya.

Waktu itu, saya yang notabene belum banyak mengenal Islam menjawab dengan gaya rada narsis, “Kalo itu sih bukan rajin namanya tapi wajib”. Teman saya bertanya lagi apa maksud saya berkata seperti itu.

“Kalo yang dia kerjakan sebatas kewajiban, ya namanya bukan rajin dong, emang itu udah wajib,” jawab saya polos.

Teman saya jadi diam seribu bahasa, tau deh ngerti apa enggak….

Ucapan saya waktu itu emang cuma pake logika sederhana, gak pake dalil atau ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi sekian lama saya akhirnya merenungi kembali ucapan saya itu, ternyata ada benernya juga sih. Jangan salah kaprah, kalo kita melakukan kewajiban seperti sholat lima waktu dan puasa Ramadhan, kayaknya gak usah deh kita menggelari diri kita dengan “rajin sholat” atau “rajin puasa”. Abis gak lucu aja, ngasih gelar rajin pada sesuatu hal yang udah seharusnya kita lakukan.

Bukan apa-apa, takutnya hal itu tanpa disadari akan membentuk “image tidak sengaja” dalam diri kita bahwa apa yang kita lakukan itu sudah cukup. Padahal mungkin masih banyak kewajiban-kewajiban lain yang belum kita lakukan. Entah karena gak tau (karena gak nyari ilmu sih?!), karena gak mau, karena gengsi, karena merasa belum waktunya dan sejuta alasan lainnya.

Padahal jatah umur kita siapa yang tau ya Bo? Mungkin setahun, mungkin seminggu, mungkin besok, mungkin lusa, jatah kita dah abis. Ibaratnya, detakan jantung kita kan lagi counting down nih, kalo dah nyampe angka nol trus kita belum sempat melakukan ibadah-ibadah wajib lainnya, gimana dong?

Apa kata Dunia? Apa kata Malaikat? Apa kata Allah?

Dikasih kesempatan koq malah enak-enakan aja?

Ada orang yang belum mau sholat karena merasa masih zuper zibuk, gak ada waktu geto loh! Ada yang belum mau puasa karena merasa kerjaannya zuper berat (ngangkat traktor kaleeee). Ada yang belum mau pake jilbab karena merasa belum siap (siap grak! maju ..jalan!). Ada yang belum mau ngeluarin zakat karena merasa harta yang dimiliki adalah hasil kerja kerasnya semata (padahal kalo Allah gak ngasih, pintu rizqi juga gak bakalan kebuka kan?)

Jadi maksud saya sih, kita (termasuk saya, of course..) jangan pernah merasa cukup dengan ibadah-ibadah yang udah kita kerjakan. Ya Allah… kayaknya malu banget yaa.. kita dibilang rajin padahal baru bisa ngerjain sedikit dari kewajiban yang seharusnya kita lakukan.

Semoga aja, Allah masih memberi kesempatan jantung kita untuk berdetak sehingga kita masih bisa terus meningkatkan amal ibadah, perlahan tapi….. PASTI!! Amiin…


UNGKAPAN CINTA SEDERHANA

Januari 21, 2009

Lakukan apa yang bisa kita lakukan hari ini, walaupun hanya sekedar mengucapkan sebuah ungkapan cinta sederhana, karena bisa jadi hari esok bukan milik kita lagi……………

Mamaku adalah tipe wanita mandiri yang jarang mengekspresikan apa yang dirasakannya lewat kata-kata. Walau bukan dari lisannya, aku tahu ia bangga padaku. Namun hal itu tak pernah menyurutkan langkahku untuk selalu bersemangat melakukan hal terbaik dalam hidupku, hal terbaik yang akan mengisi relung hati Mama dengan binar kebahagiaan.

Tak pantas rasanya mengharapkan Mama mengungkapkan kebahagiaan dan kebanggaannya padaku, karena apapun yang aku lakukan tak akan cukup membalas segala pengorbanannya merawat dan membesarkan aku dengan cintanya.

Tapi aku? Pernahkah aku duduk di hadapannya, menggenggam tangannya dan mencium pipinya seraya berkata ,” Aku mencintai Mama, aku bangga punya Mama, dan aku ingin selalu membahagiakan Mama.”

Betapa ingin kulakukan itu, tapi pernahkah aku lakukan?

Walau bukan dari lisannya, aku tahu Mama bangga padaku. Tapi tak sempat lagi aku ungkapkan bahwa aku lebih bangga punya Mama seperti dirinya. Di depan nisannya aku bersimpuh dan di akhir do’a, aku sempatkan diri mengatakan semua yang tak sempat aku katakan dihadapannya.

Kubayangkan betapa bahagianya Mama, jika aku mengatakan bahwa dialah Ibu terbaik di dunia, karena akupun bisa merasakan kebahagiaan itu saat anak-anakku mengatakannya padaku..…


The First ……

Januari 10, 2009

Banyak sudah yang kuarungi dalam hidup ini.

Kadang suka, kadang juga duka dan setumpuk asa.

Tapi, di saat lara tapi terjaga.

Benakku sering mengembara, mencari marka.

Hendak kemana diri ini kan ku bawa.

Haruskah ku dibuai oleh suka cita sesaat yang menggoda?

Terbuai oleh rasa dan asa yang sebenarnya maya?

Padahal, jika kujalani pun tak kan seindah yang kuduga…

Haruskah ku terbujuk oleh anganku.

Tuk menghabiskan waktuku dengan mauku?

Padahal, jika ku jalani semua itu.

Tak kan pernah puas mau dan hasratku.

Padahal, jika ku kembali pada Rabb-ku,

Semua itu itu kan ditanya atas karya dari rentang umurku.

Oh…… tidak!

Ku tahu bahwa aku harus berburu mengejar yang tersisa.

Ku tahu bahwa waktuku belum tentu banyak yang tersisa.

Ku tahu bahwa aku terlahir dari bahan, cara dan persaingan.

yang ketat dan aku adalah yang terbaik yang dilahirkan.

Lalu……

Haruskah aku tidak berjuang menjadi yangterbaik dalam hidupku?

lagi-lagi tidak ……

Aku harus berbuat yang terbaik.

Aku memang lebih baik dari syetan yang durjana.

Aku memang lebih baik dari binatang yang tak berakal.

Ku tak mau mengorbankan masa depan akhiratku.

yang panjang tak berujung ……