Kejutan Sederhana yang Tidak Sederhana

Januari 5, 2012

Anak-anak memang istimewa. Mereka selalu punya cara tersendiri untuk membuat orangtuanya gembira, terharu, tertawa dan yang jelas “memaksa” kita untuk terus belajar..

Hari Ibu memang bukan sebuah seremonial khusus untuk dirayakan tapi bagaimanapun ….makasih buat surprise-surprise kalian di Hari Ibu yang lalu..

Sekitar jam 3 pagi, dengan masih agak terpejam, aku lihat Difa sibuk mondar mandir di kamarku. Rupanya dia ingin menjadi yang pertama memberikan kejutan. Aku bangun dan aku liat selembar kertas di pintu lemariku..begini kalimatnya:

HAAPPYY MOM DAY…. Happy Mom Day ya… Selamat Hari Ibu. Maafin aku ya Mi, kalo aku suka gak nurut, bandel dan ngeyel, dll ama Umi. Sorry I just can give this to you…padahal kau telah memberikan segalanya dan mungkin segala-galanya untuk kami. Thanks to everything, Mom. And one more ..sorry I just can give this to you. Maafin aku ya mi atas semua perbuatanku… INSYA ALLAH hadiahnya nyusul Difa

Keesokan harinya, Difa member hadiah coklat kecil, biscuit dan bros. makasih sayang…Umi tau Difa harus menabung untuk membeli itu semua…

Sambil menyiapkan beberapa keperluan pagi, ba’da Subuh, ada surat lagi di atas surat Difa. Kali ini dari Kakak….

22 Desember 2011

All people in this world know, today is Mom’s Day. Many people prepare this day to give a present for their Mom. But today, I just can give a little letter just for remember I have to give you something in special day for all mom I this world especially you…. I don’t know what I should say,, but in may deeply heart I just wanna say I LOVE YOU. Sorry I cant give you anything and maybe if I give you the most expensive thing in this world cant be reply all the thing you had done and give… Thank you so much for all, no matter what, you keep us with all of your love since a long time ago until now. May Allah give you long life. I wanna you smile and I don’t wanna look you sad. I wanna you smile happily when I get marry..HAHAHA..

Thanks a lot for all.. thanks for your remind me always altought I know I should do that by myself. Sorry to make you sad everytime. I’ll promise that I’ll do the best in my life, make you smile and make you proud of me 

LOVE YOU ALWAYS & 4EVER, KK

Makasih ya Kak… Englishnya boleh juga.. yang penting berani ya Kak, gak papa masih salah-salah juga. Hehehe..btw, u said when u get marry? Hhahaha… Umi jadi berasa tua nih.. Semoga kita sampai pada saat bahagia itu ya Nak….Aamiin. Oya, makasih juga buat kacamata hitamnya, sangat berguna lhooo..

Pagi itu, Azka gak banyak cakap. Pergi sekolah seperti biasa sama kakak. Siang hari, Azka pulang lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena tidak belajar karena besok pembagian rapot. Begitu datang, dia langsung memberiku setangkai bunga dan surat cinta….

Happy Mom’s Day Hey Mom..Thank u for big care to me & big thanks for ur body, money, sweat etc to me.

I’m so sorry Mom, I can’t be the best for u & I just wanna say “love u Mom”

Thank u & Love U

22/12/11

Azka

Makasih ya Nak… Baru kali ini aku dapet setangkai bunga cinta kayak di tipi. Hehehe… Terusin nulis bahasa inggrisnya.. harus berani salah, biar bisa belajar terus..OK?

Malamnya, Azka nulis ini lagi dan ditempel dekat surat cinta yang lainnya. Father

And

Mother

I

Love

You

Baru sadar beberapa hari kemudian, kalo kata-kata itu membentuk kata FAMILY ya?? Aku telmi juga ya kadang-kadang… hehe..

Azka juga mendikte Nayla untuk nulis hal yang sama di Hari Ibu ini yaa.. Dengan tulisan cakar ayamnya, Nayla menulis ini buat Umi..

Happy mom’s Day

Nayla

Makasih anak-anak… Hari Ibu memang bukan perayaan milik kita. Tapi paling tidak, kalian punya sebuah momen yang mengingatkan bahwa AKU CINTA KALIAN…….mmuuuaachh…


Ada dimana cinta?

Desember 9, 2011

Cinta ada dimana-mana…

Di teriknya matahari yang menyengat kulit

Di serpihan kaca bekas piring makan yang jatuh

Di tumpahan susu yang diminum adek

Di dalam buku yang tersimpan di rak

Di dalam mesin cuci yang sedang berputar

Di ceceran oli motor ayah

Di tetesan keringat kakak saat pulang sekolah

Di jari ibu yang terluka di dapur

Di sisa spidol white board bunda guru

Di airmata yang jatuh sepertiga malam

Cinta ada dimana-mana…

Karena cinta selalu bersama kita

Yang selalu melihat sisi baik

Dari setiap hal yang kita alami…


I’tikaf yuukk

Agustus 26, 2011

Salah satu ritual yang rutin kami lakukan beberapa tahun terakhir ini selama Ramadhan adalah i’tikaf. Emang sih gak persis sama dengan yang dilakukan Rasulullah Saw yaitu berdiam diri di mesjid pada 10 hari terakhir Ramadhan. Biasanya kami keluar rumah sekitar jam 2 pagi dengan membawa bekal makanan sahur. Nayla sejak 3 tahun lalu juga ikut. Seringnya ia sedang dalam kondisi tidur pada saat kami berangkat, tapi langsung bangun begitu kami sampai di mesjid.
Mesjid favorit kami adalah mesjid Mujahidin Pamulang, karena disana “lumayan” rame.
Biasanya di mesjid disiapin nasi bungkus buat sahur, jadi alhasil makanan yang kami bawa gak termakan semua. Alhamdulillah…berkah Ramadhan..

Selain beribadah (sholat, dzikir, doa dan baca Al-Qur’an), momen i’tikaf ini kami manfaatkan untuk kumpul keluarga. Sekedar ngobrol, taushiyah, makan atau main sambil menunggu waktu Subuh. Semua kami lakukan di lapangan mesjid di bawah sinar rembulan dan cahaya bintang. Subhaanallah…..indahhh banget…

Ritual keluarga memang menjadi momen penting bagi sosialisasi, edukasi dan internalisasi nilai-nilai moral dan agama (ad diin). Semua itu adalah bagian dari tugas kita sebagai orang tua. Selebihnya, Allah yang menurunkan hidayah kepada siapa yang dikehendaki. Aku hanya bisa lirih berkata pada Sang Khaliq, kalo ini adalah bagian dari usaha kami yang gak seberapa… Masih terlalu banyak kekurangan yang melekat pada diri kami dalam mendidik dan merawat mereka. Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kami.

Sebuah harapan juga bahwa ritual keluarga ini akan ditularkan pula kepada cucu-cucu kita kelak dan semoga rantai kebaikan tidak pernah terputus dengan doa dan usaha kita…
Mumpung masih ada beberapa hari lagi di bulan suci ini, manfaatin yuk buat i’tikaf…..


HIDUP DETIK DEMI DETIK

Agustus 9, 2011

Kemarin siang, saat aku mengatar Azka, anak keduaku ke tempat lesnya, aku membaca sebuah tulisan di mading. Lupa judulnya, tapi yang jelas isinya begitu dahsyat menurutku. Lupa juga siapa yang nulis, tapi yang jelas, tulisannya bermanfaat banget buat mengingatkan kita akan hakekat hidup ini.
Makasih ya buat seseorang yang entah dimana atas tulisan itu…
Kurang lebih makna yang saya ambil seperti ini:

Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Ayah, bisakah selama hidup, kita tidak berbuat dosa?” Ayahnya menjawab sepertinya tidak mungkin, Nak..”
“Mungkinkah jika setahun saja kita tidak berbuat dosa sama sekali?” gadis itu bertanya lagi dan ayahnya menjawab dengan jawaban yang sama.
“Bagaimana jika sebulan saja, kita melewati hidup ini tanpa berbuat dosa, bisakah Ayah?” tanyanya lagi pada ayahnya. Lagi-lagi ayahnya menjawab, “Sepertinya juga tidak mungkin, Sayang..”

GAdis kecil itu terus mengejar dengan pertanyaan, “Bagaimana jika seminggu atau sehari tidak berbuat dosa?” dan ayahnya menjawab dengan jawaban yang hampir sama.

Akhirnya ia bertanya, “Bagaimana jika sedetik saja kita tidak berbuat dosa? Bisakah Ayah?”
Kali ini ayahnya tersenyum lebar dan menjawab, “Sepertinya itu masuk akal dan bisa dilakukan.”
Gadis kecil itupun gembira dan berkata, “Kalau begitu, aku mau menjaga detik demi detik hidup yang aku jalani agar aku terhindar dari berbuat dosa. Aku rasa menjalani hidup detik demi detik itu jauh lebih mudah kan, Ayah?”

Subhaanallah…memang begitulah seharusnya kita jalani hidup ini.. Detik demi detik dengan terus menjaga kesucian diri dan keikhlasan hati. Semoga Allah ridho…


Dear Kakak, we love you so much

Juni 14, 2011

Beberapa hari ke depan, kalo Allah mengizinkan, aku akan melihat kakak pake seragam putih abu-abu… Ya Allah…rasanya waktu cepat sekali berlalu… kayaknya baru kemaren aku gendong kamu….aku mandiin kamu (agak lebay gak sih?)

Tapi jujur kak, rasanya umi belum puas mendekap kakak dalam pelukan dan mencium bertubi-tubi pipi kakak…karena sekarang kakak susah dipeluk, susah dicium…..kenapa sih kak?

 

Inget gak nak, dulu kakak selalu ikut aku ngajar les, sampe-sampe kakak pernah jatuh ke got karena udah ngantuk…. Hebat, kakak masih inget ya, padahal waktu itu kakak baru sekitar 3 tahun lho..

Inget gak nak, kita pergi ke monas naik bis kota, ke kebun binatang naik angkot, ke planetarium naik kopaja, ke Jogja naik kereta.

Inget juga kan waktu kakak baru bisa naik sepeda dan jatuh di TK sampe harus diurut ke Cimande…

 

Oya, dulu kakak susah makan lho…(sekarang susah berhenti makan yak??? Hehehe). Kalo nyuapin kakak harus sabar, bisa sampe 1 ½ jam lebih. Tau gak? Kakak kan takut ama sendok. Waduhh repot deh jadinya.. mau pake sendok, tapi harus pake kacang goreng. Biar kriuk-kriuk ya kak? Tapi kakak dari kecil jaang nangis. Kalo umi lagi masak atau nyuci, kakak bisa main sendiri.. Kakak hebat ya…

 

Kak, semua gak akan terulang lagi kan? Tapi setiap detik yang kita lalui pada hakekatnya kita sedang mengukir sejarah… sejarah yang akan jadi pelajaran dan kita petik hikmaknya. Sedih, bahagia, kecewa, gembira…adalah episode yang menjadikan diri kita menjadi seseorang. Kenanglah semua sebagai sesuatu yang berharga dalam hidupmu ya Nak…

 

Selagi masih ada waktu, umi cuma mau bilang, bahwa ada satu momen persembahan kakak yang gak pernah umi lupakan. Waktu kakak ikut olimpiade matematika se Jabodetabek kelas 6 SD. Umi yang kebetulan sekaligus jadi guru pendamping dari SD Pd Petir 03, bener2 bahagia. Bukan saja karena SD kita masuk final tapi lebih dari itu, kakak, anak umi yang sholehah, masuk jadi finalis. Saingannya lumayan banyak ya kak, 400an orang. Kakak urutan ke 18 waktu masuk final. Emang sih gak jadi juara, tapi jujur nak, waktu nama kakak dipanggil jadi finalis, umi berasa terbang ke awan….(hiperbola gak sih?)

Makasih ya kak…. Umi bangga ama kakak..

 

Kak, kebaikan apapun yang kakak peroleh, harus selalu ingat ya, bahwa yang utama adalah karena karunia Allah dan juga kontribusi doa dan support orang tua, dan yang gak kalah penting adalah usaha keras yang kakak lakukan..

 

Bersiaplah menghadapi dunia dengan segala pernak perniknya. Jangan pernah sombong atas apa yang telah kakak capai karena hanya kehancuran yang didapat oleh orang yang sombong. Dekatlah selalu pada Allah dan mohon pertolongan padaNya setiap saat. Umi abi bukan orang yang gak pernah salah, tapi hormatilah kami karena itulah kewajibanmu sebagai seorang anak.

Ingatlah, bahwa kami selalu ada untukmu…

 

Berangkatlah nak, menyongsong masa depanmu…doa kami menyertaimu… We love you so much


BIARKAN MEREKA YANG MEMILIH BENIHNYA

Maret 1, 2011

Banyak anak-anak yang “sukses” saat masih kanak-kanak, namun ternyata setelah dewasa justru tidak menjadi “apa-apa”.  Fenomena ini tentu menjadi semacam warning buat kita sebagai orang tua untuk memberikan lahan yang baik untuk anak-anak kita agar tumbuh berkembang secara optimal, sehingga kelak dapat menjadi orang yang berguna.

Ada sebuah kisah nyata tentang seorang Jenius yang dimiliki dunia.  Dialah William James Sidis yang hidup di tahun 1930an.  Konon IQ-nya mencapai 250-300.  Sejak usia 2 tahun surat kabar New York Times telah menjadi teman sarapan paginya, menulis buku tentang anatomi dan astronomi pada usia 8 tahun, dan diterima sebagai mahasiswa termuda di Harvard University pada usia 11 tahun,  mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan masih banyak keajaiban lain yang dimilikinya.  Tiada hari tanpa berita menghebohkan tentang dirinya di surat kabar dan majalah.

Namun apa yang ia alami di masa-masa selanjutnya?  Ia adalah seorang yang tidak bahagia, tidak memiliki teman dan menjauhkan diri dari keluarga, bahkan ia akhirnya mengatakan bahwa ia sangat membenci matematika yang membuat namanya melambung tinggi.  Ironisnya, seorang wartawan terkenal, James Thurber, menemukan seorang pemulung mobil tua yang tidak lain adalah si Jenius ini.  Akhirnya, William James Sidis meninggal di usia 46 tahun dalam kondisi yang miskin dan tanpa keluarga.  Semua itu akibat ambisi orang tua yang memaksakan kehendaknya pada anak yang melakukan intervensi berlebihan sejak dini, sehingga anak tidak dapat melewati masa kecilnya dengan kegembiraan dan keceriaan.

Jangan berpikir bahwa ini hanyalah sebuah cerita masa lalu yang sekedar mengundang belas kasihan kita.  Tapi sebagai orang tua, hendaknya ini menjadi sebuah pelajaran berharga untuk bisa lebih menghargai anak “apa adanya”.  Banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya pada anak.  Bahkan banyak yang menganggap bahwa MAIN bagi anak-anak HANYA MEMBUANG WAKTU SAJA dan menganggap bahwa anak-anak harus disetir oleh orang tua untuk melakukan kegiatan yang disukai orang tua tapi sebenarnya tidak disukai oleh anak.

Kadang orang tua lupa (atau sengaja melupakan) bahwa anak memiliki kemampuan lain yang patut dihargai.  Kalau boleh jujur, orang tua ingin anaknya bisa cepat baca tulis hitung sedini mungkin walaupun kadang memaksakan “belajar” dengan cara orang dewasa.  Yang salah bukan belajar baca tulisnya, tapi cara yang kita lakukan sering tidak tepat. Ingatlah bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa.  Mereka punya cara tersendiri yang sesuai dengan tahapan perkembangannya, seperti Al-Qur’an yang Mulia menjelaskan pada kita dalam Surat Al Qomar (54) : 49 yang artinya “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”

Anak berlarian di halaman, main air, memasang puzzle, membentuk lilin, mencoret-coret kertas, mengikuti lomba, berkenalan dengan orang dewasa, atau bahkan menangis karena terjatuh dari sepeda adalah pemandangan yang seharusnya membuat kita bahagia, karena dengan cara seperti itulah mereka belajar.  Belajar menjadi manusia seutuhnya.

Tentu kita tidak mau, anak-anak kita “hebat” di masa kecilnya, tapi tidak “berharga” di masa tuanya.  Jadi Ayah Bunda…kita siapkan lahan yang baik buat anak-anak kita ya…. Tapi…. biarkan mereka yang memilih benihnya, lalu kita rawat benih itu bersama-sama agar tumbuh secara optimal dan jika tanaman itu berbuah, pastilah buahnya akan dapat kita nikmati bersama-sama, dengan senyuman, dengan kasih sayang dan dengan keRidhoanNya…


KADO ISTIMEWA BUAT NAYLA

Desember 28, 2010

Nayla sayang,

Hari ini (28 Desember 2010) usiamu tepat 3 tahun…  Gak terasa ya Nak… Alhamdulillah……

Apa yang Umi tulis ini sesungguhnya adalah kado untukmu sayang…..

Bukan mainan barbie yang ratusan ribu harganya, atau pesta meriah dengan kue ulang tahun warna-warni dan parcel snack…karena kita tidak pernah melakukan itu…. Tapi aku yakin, kado ini akan Nayla kenang sepanjang hayat… bagaimana dirimu menghabiskan 3 tahun kehidupan pertamamu… 3 tahun yang menurut hasil penelitian akan sangat menentukan jalan kehidupanmu kelak….

Kau begitu LUAR BIASA.. begitu ISTIMEWA…

Kado ini pula yang aku harap bisa kau baca lagi kelak, jika kau merindukan kami, jika kau sendiri, jika kau butuh kekuatan…

Betapa kami sangat menyayangimu, mencintaimu sepenuh hati…………..

Jadilan kado ini sebagai penguat keimananmu, sebagai penyemangat belajarmu, sebagai perisai dari keburukan, sebagai perekat cinta kita….

 

Nayla sayang……

Inget gak… (ya enggak lah Mi…)…waktu baru empat bulan, Adek ngobrol ama K’ Risyda di teras.  Kayak yang beneran aja deh… Waktu itu kakak tanya, “Mau ke kolam renang naik apa?”.. trus Nayla jawab, “Mobiiiilll.”  Trus kakak tanya lagi, “Sama kakak?”.  Nayla jawab, “gaaaakkkk,  ma aabbi.”

Mungkin kebetulan ya sayang, tapi setiap kali kami putar lagi rekaman suaramu di hp umi, kami masih sering takjub aja…dan memang kemampuan bahasamu luar biasa.  Dan yang bikin kami terkagum-kagum, kemampuan motorik dan logikanya juga berkembang dengan baik dalam waktu yang bersamaan.  Subhaanallah Walhamdulillah…

 

Inget gak…. waktu usiamu belum genap satu tahun, tau-tau Adek naik teralis kamar Umi sampai ke atas.  Pada usia 15 bulan udah sering ikutan teriak “pepes….pepes..”  sambil menjinjing tas seperti anak perempuan penjual pepes yang lewat di depan rumah.

Atau waktu Adek umur 2 tahun (tepatnya tgl 3 Januari 2010), waktu Umi tanya sakit atau gak ketika Nayla  jatuh… Nayla jawab, “enggak kok..aku kan pinter, cantik, sholeh.”  Ngikutin Umi ya Dek?

 

Mau tau gak Sayang,  apa aja yang pernah Adek lakukan dalam 3 tahun kehidupanmu.  Dengerin ya…. Aku bagi beberapa episode ney…

 

EPISODE  JURNAL PERKEMBANGAN

  • Tgl 15 Okt 2009 (22 bulan), hapal do’a mau makan
  • Tgl 19 Okt 2009 (22 bulan), hapal do’a mau tidur
  • Tgl 7 Nov 2009 (23 bulan), Nayla bilang “Umi lagi bahasa Inggris”  ketika ditanya tetangga dan memang benar aku sedang membaca literature bahasa Inggris dengan bersuara (maklum kemampuanku agak minim Dek…)..Kok tau sih Dek…
  • Tgl 22 Des 2009 (jelang 2 tahun), buka celana sendiri, pipis di kamar mandi dan pakai lagi celananya
  • Tgl 29 Des 2009 (2 tahun), menghitung 1 – 13
  • Tgl 30 Des 2009 (2 tahun), hafal surat Al Fatihah
  • Tgl 2 Jan 2010, gambar ikan di kertas
  • Tgl 3 Feb 2010 (25 bulan), Nayla bilang : “Umi kalo mau pipis di kamar mandi ya….”  Padahal Adek juga masih suka lupa ya….
  • Tgl 20 Feb 2010 (25 bulan), berdiri di atas jok motor (kok bisa sih Dek? Gak takut apa?)
  • Tgl 23 Feb 2010 (25 bulan),, bilang :  “maap ya Mi…..” waktu lewat di depan Umi.
  • Tgl 1 Juli 2010 (30 bulan), bisa bilang “R” dengan sangat jelas
  • Tgl 5 Juli 2010 (30 bulan), bilang : “terima kasih kakak udah beliin aku susu…”
  • Tgl 20 des 2010 (jelang 3 tahun), menulis angka 1, 2 dan 3 sendiri dan tanpa contoh apapun di kertas kosong

EPISODE KOREKSI

Nayla sayang,

Kehadiranmu selama 3 tahun terakhir ini juga banyak menjadi koreksi buat Umi.  Inget gak waktu Adek ngingetin Umi untuk baca doa dulu sebelum tidur.  Umi inget Dek, waktu itu tgl 15 Mei 2010.  Makasih ya dek..tau aja Umi kadang suka lupa baca do’a…..

 

Pernah suatu saat (tgl 28 Juli 2010), Umi belajar dari Nayla sesuatu yang berharga.  Waktu itu Nayla lagi nangis karena Umi bangunin dan langsung dibawa ke  kamar mandi.  Tapi sambil nangis, Nayla tetap bilang tolong dan mau gosok gigi sendiri.  Umi jadi belajar bahwa walaupun hati kita sedih kita harus tetap tersenyum dan melakukan apapun yang memang sudah seharusnya kita lakukan.  Paling tidak semua itu akan mengurangi kesedihan atau kegundahan yang kita alami.  Makasih ya Dek….

 

Maapin Umi ya Dek….kadang Umi sendiri lupa… karena buru-buru, nyuapin Adek tapi lupa baca doa.  Waktu itu tanggal 2 Agustus 2010, Adek bilang, “kan aku belum Allahumma…”  maksudnya belum baca doa sebelum makan kan?   Maap ya Dek… Makasih juga udah ngingetin..

 

Pernah juga waktu kita makan bareng..biasa….. melantai alias lesehan… aku lupa melipat kaki. Trus nayla bilang, “Kalo makan, kakinya dilipat…”.  Akhirnya senjata itu yang selalu aku pakai kalo Adek lupa melipat kaki ya… hehehe… satu sama…

 

Yang sampai sekarang masih kamu lakukan adalah mengucapkan Bismillah kalo Umi atau Abi mulai starter mobil atau motor dan mengucapkan Alhamdulillah, pada saat mobil sampai kembali ke rumah.  Secara khusus, memang tidak diajarkan padamu, tapi kemampuanmu menyerap apa yang biasa kami lakukan memang benar-benar ibarat spons ya….  Terima kasih yaa Allah…

 

Kalo yang satu ini memang dibiasakan sejak Adek belum lancar bicara kan Dek…?  Setiap Nayla minta susu, pasti ada ritualnya untuk bilang, “Mi tolong bikin susu, terima kasih, thank you, I love you, mmmuuuah.”  Hehehe panjang banget ya Dek syaratnya….Dan itu masih dilakukan sampai sekarang.  Kira-kira sampai kapan ya Dek ritual itu berlangsung?  Yang pasti sampe Adek berenti minum susu atau udah bisa buat susu sendiri kali ya…..

EPISODE LUCU

 

Ada juga hal-hal lucu yang Nayla ucapkan dan membuat kami tertawa kalo ingat.  Kebetulan di sebelah rumah ada anjing piaraan yang hampir sama umurnya sama Nayla ya.  Tapi tuaan Brownie kali ya…. Suatu saat, om Hendrik pemilik rumah datang dan kebetulan kami sedang di luar.  Lalu Nayla bilang, “Tuuhhh papa Brownie udah pulang….”.  Aku tegaskan lagi apa yang Nayla maksud Papa Brownie, “Tuhh yang lagi naik motor…” Masya Allah Dek….. tetangga-tetangga yang ikut mendengarkan jadi ikutan tertawa… .. Ada-ada aja sih Dek… Masa om Hendrik dibilang papanya Brownie…emang gukguk… hihihi untung “papanya Brownie” gak denger ya… Maap om…maap…

 

Waktu itu tanggal 25 Juli 2010 (usiamu baru 2,5 tahun). … Umi lagi sholat di kamar waktu ada tamu mengucapkan salam.  Spontan Adek menjawab, “Tunggu Bu..Umi lagi sholat…”.  Beberapa kali tamu itu mengucap salam dan beberapa kali pula Adek menjawab dengan jawaban yang sama karena rupanya si Ibu tidak mendengar.  Sampai akhirnya tamu itu memutuskan pulang dan Adek sedikit mengeraskan volume suaranya memanggil-manggil si Ibu, “Bu…tunggu Bu…ya …Ibu..tunggu….yaaa Ibu …”.  Kecewa juga Nayla rupanya karena si Ibu gak mendengar suaranya.  Jujur aja Dek…sholatku hampir batal karena menahan tawa.  Abis…gaya Adek kayak orang gede aja siiihhh…

 

Sholat Umi juga hampir batal gara-gara Adek ngomong mulu waktu Umi sholat.  Waktu itu, Adek di kamar dan mau ganti baju Outbound AULIA.  Karena tau aku sedang sholat dan gak bisa dimintai izin, jadi akhirnya Nayla bilang, “Ya Allah…. Aku boleh gak pake baju outbound…..” dan Adek langsung memakainya sendiri karena udah merasa minta izin.  Kejadian itu terjadi tanggal 15 November 2010.  Adek pintar ya sayang….. umi sayang Adek….

EPISODE PERJUANGAN

Nayla sayang,

Kelak jadilah seorang pejuang sejati ya…. Yang selalu menegakkan kebenaran dan pantang menyerah.  Yang selalu istiqomah dan selalu bersungguh-sungguh dalam memikul amanah….

Sejak dalam kandungan, kau adalah seorang pejuang Nak….

Banyak hal yang aku alami selama Adek di dalam kandungan.  Gak seperti orang lain sih yang jauh lebih sulit menghadapi hidup tapi paling tidak apa yang Adek alami sudah sepatutnya membuatmu kuat….

 

Termasuk sejak aku memutuskan kuliah lagi saat usiamu baru 1 tahun 8 bulan.  Saat aku berangkat pagi-pagi, Nayla hanya ditemani kak Difa yang masih kelas 4 waktu itu.  Kak Difa masuk siang, jadi bisa nunggu Adek sampai  Nenek yang menjaga Adek datang.  Gak jarang umi nangis sambil berangkat karena meninggalkan kalian berdua di rumah.  Kadang Abi yang berangkat lebih siang dan harus menyaksikan kalian hanya berdua di rumah.  Abi cerita ke Umi sambil nangis Dek, katanya hampir aja Abi balik lagi ke rumah karena di jalan terbayang kalian berdua.  Tapi setelah Abi telpon ke rumah dan ternyata Nenek sudah datang, jadi Abi gak pulang lagi….

 

Sejak akhir semester 2, di rumah gak ada lagi yang membantu.  Kita semua harus berjuang menyelesaikan banyak hal.  Termasuk juga Adek ya…harus rela ikut aku ke Bogor pagi-pagi dan dititip di rumah Aki.  Kadang Adek masih terbuai mimpi saat aku bangunkan, tapi Adek gak pernah rewel  apalagi nangis.  Padahal perjalanan kita panjang banget Nak…. Sekitar  70 km, naik ojek, naik turun angkot dan janjian ama Aki Nini di jalan.  Kalo udah ketemu Aki, Adek akan bilang,”Umi kuliah dulu ya, aku sama Aki Nini…”  Di rumah Aki Nini juga gak rewel, makan sama Nini…Bobo sama Aki…Makasih Aki Nini…Makasih juga Nayla sayang….

 

Begitupun saat pulang 3 hari kemudian dari Bogor, kadang sudah lewat Maghrib.  Lelah badanku, pusing kepalaku, tapi dirimulah yang memberiku semangat.  Bagaimana aku mau mengeluh kalo yang kutemui tubuh mungilmu senantiasa bergerak, gembira, bernyanyi, ber-speak English-ria di dalam angkot yang sesak?  Malu lah aku……

 

Saat teman-temanmu membeli mainan yang mahal-mahal, gunting dan kardus bekas susumu sudah jadi mainan yang sangat berharga buatmu.  Hebatnya, Adek sudah  mempu menggunting sebelum usia 2 tahun dan bisa memasang puzzle-puzzle yang kau gunting dari kardus susumu….

 

Sudah 2 kali Ramadhan saat usiamu  1 tahun 8 bulan dan 2 tahun 8 bulan dan kita semua berangkat I’tikaf ke Mesjid, Adek juga ikut bangun jam 01.30 pagi padahal Adek bisa aja bobo di mobil.  Di mesjid juga Adek gak rewel.  Ikut sahur sambil melihat bintang, lari-lari di halaman mesjid dan akhirnya tertidur di mobil saat kita pulang ba’da Subuh……  Jadi anak sholehah ya Nak….

 

Semoga pengalamanmu ikut Umroh waktu 2,5 bulan dalam kandungan dan puasa Ramadhan sebulan penuh juga akan memberikan pengaruh hebat pada keimanan dan ketakwaanmu kelak.  Ingat itu ya Nak….

 

Ohya, inget Monas kan Dek… kayaknya memori tentang Monas termasuk yang paling melekat ya… kapanpun dimanapun dan pada siapapun pengennya cerita Monas, maen layangan ama bang Alfi ya…   Kalo Umi di kamar dan Adek ketok pintu sambil memberi  salam dan Umi tanya “ada apa Bu Nayla”, pasti Adek jawab, “Buka dulu deh, aku mo cerita Monas nih…..”  Pasti dah….gada laeeennn…

 

Warna-warna, nama binatang dan angka dalam bahasa Inggris sudah dapat kau sebutkan dalam usia 2 tahun.  Begitu senang pada buku dan membaca layaknya orang dewasa.  Begitu senang Al-Qur’an atau Iqro dan membacanya persis dengan logat orang yang sedang mengaji…  Adek…Adek..gayamu semua terekam di HP Umi Abi….  Suatu saat kamu pasti senang mendengarkannya…

Sekarang, Adek sudah hapal doa orang tua, doa sapu jagat, surat Al Ikhlas..kak Azka yang banyak ngajarin ya Dek… Makasih Kakak….

 

Terimakasih sayang, setelah 3 tahun ini mungkin aku belum memberi banyak, tapi Adek yang memberi banyak…sangat banyak…buat kami……….

Tiga Tahun Pertama Kehidupanmu Akan Menjadi Langkah Awal Bagi Kehidupanmu selanjutnya….

Jadilah anak yang sholehah, kuat, cerdas dan selalu bersemangat…………Umi, Abi, dan kakak-kakak sangat sangat menyayangimu.

 

Jika Nayla kelak membaca kado Umi ini….semoga kami masih ada bersamamu…diberi usia panjang untuk mendampingimu dan juga kakak-kakak…. Semoga Allah memberi kebaikan dan keberkahan untukmu, melindungimu dan mencintaimu…lebih dari cinta kami padamu….

 

Dari Umi yang selalu mencintaimu sepenuh hati…………………..


The Willingness to Change

Desember 18, 2010

When I was young and free

And my imagination has no limits

I dreamed of changing the world

As I grew older and wiser

I discovered the world would not change

So I shortened my sights somewhat

And decided to change only my country

But it too seemed immovable

As I grew into my twilight years

In one last desperate attempt

I settled for changing only my family

Those closest to me….but alas

They would have none of it

And now as I lay on my deathbed

I suddenly realize

If I had only changed myself first

Then by example I might have changed my family

From their inspiration and encouragement

I would then have been able to better my country

And who knows,

I may have even change the world……….

(dari pemakaman tua di Westminster Abbey 1100M)

 


Father Involvement

Oktober 16, 2010

Dalam kesempatan OBRAS DASI (Obrolan Santai dan Berisi) di AULIA – ISLAMIC CHARACTER BUILDING SCHOOL, Mr. Rothan mengungkapkan bahwa seorang ayah mempunyai peran yang teramat penting dalam menentukan perkembangan seorang anak.  Ia mengatakan banya kasus yang ia temukan di sekolahnya bahwa ternyata anak yang ‘bermasalah’ ternyata anak-anak yang ayahnya kurang atau tidak terlibat dalam pengasuhan.

Pandangannya sebagai orang Bule sebenarnya rada ‘mengejutkan’ juga.  Secara umum yang kita tahu, orang Bule lebih moderat dan cuek pada kehidupan berkeluarga, namun ia mengatakan komitmen ia untuk menikah berarti ia juga harus mampu memberikan kasih sayang dan perhatian untuk istri dan anak-anaknya.  “Kalau saya tidak mau buat itu, saya hidup sendiri saja dari dulu,”ujarnya.  Ia menambahkan bahwa ia dan istrinya yang asli orang Jogja sepakat bahwa istri di rumah mengasuh anak dan urusan rumah tangga paling tidak sampai anak-anak mereka bersekolah.  Namun kenyataannya sampai putra kedua mereka sekolah di play group yang jam sekolahnya 8 – 4 sore, mereka tetap bertahan dalam kondisi sang Ibu tinggal di rumah karena pada saat istirahat siang (sekitar 2 jam), Remy Yusuf Isaac Rothan pulang dan tidur siang di rumah mereka, sehingga bonding dengan ibunya tetap terjaga (keren banget gak sehhh?).  Mr. Rothan juga sangat menikmati profesinya sebagai guru karena ia tetap bisa mengawasi kedua putranya yang bersekolah di tempat ia bekerja.

Seorang Ibu (orang tua siswa kel A) bertanya tentang cara mengajak suami untuk lebih care pada anak.  “Kalau anak nakal, istri yang disalahin.  Kalau rumah berantakan, istri yang disalahin”, ujarnya.  Mr. Rothan yang asli Perancis itu mengatakan bahwa menyalahkan orang lain adalah suatu hal yang sangat mudah dilakukan, apalagi jika kita dalam kondisi capek.  Namun yang harus diingat adalah komitmen itu tadi.  Menurutnya, anak adalah hasil dari kerjasama suami dan istri, maka sudah seharusnya menjadi tanggung jawab ayah ibunya untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka termasuk dalam hal pengasuhan.  Ibu lebih sebagai orang yang sabar dan memberikan curahan kasih sayang, sedangkan ayah sebagai sosok penegak disiplin namun tetap penuh kasih sayang.

Keterlibatan ayah dapat dimulai dari hal yang sederhana.  “Daripada menunggu istri mengangkat bekas piring atau gelas bekas kita makan atau minum, lebih baik bawa sendiri ke dapur.  Abis kadang-kadang bapak-bapak lupa jalan ke dapur, bahkan sampai mungkin ada yang bertanya “memang ada di dapur di rumah ini ya”, selorohnya mengundang tawa kami.  Dari hal-hal kecil itulah, ayah akan terbiasa untuk melakukan kegiatan di rumah dan menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya.

Ia bahkan mengatakan bahwa ayah itu harus terbiasa mencuci piring atau memasak.  Sesekali istri keluar rumah sendiri dan anak-anak di rumah bersama ayah juga termasuk sarannya yang penting untuk menciptakan kedekatan antara ayah-anak.  Asalkan semua dalam kondisi ready, rumah sudah rapi, bahan makanan atau makanan matang sudah tersedia, anak-anak dalam kondisi OK, gak ada salahnya memberikan kesempatan pada ibu untuk menikmati waktunya sendiri.  (Mau gak Buuuu??? Bangetttt, kata ibu-ibu………….he.he…asyik kali ye…)

Ngomong-ngomong soal father involvement ini, jadi inget cerita dosen pembimbing saya, Bu Melly Latifah.  “Mamiku itu,” katanya saat bercerita pada saya, ”gak pernah lho mandiin bayi-bayinya.  Kami semua, yang mandiin itu Papiku.  Nanti kalau kita udah pada bersih dan wangi, Papiku baru ngasih ke Mami supaya Mami bisa menyusui.”  (Hebaattt banget kan??!!).

Apa yang Mr. Olivier Rothan sampaikan tentang keterlibatan ayah dalam pengasuhan ini memang kenyataannya sesuai dengan hasil-hasil penelitian tentang father involvement (keterlibatan ayah).  Menurut beberapa hasil penelitian, anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan akan memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik (Nugent, 1991), menjadi anak yang better problem solvers (Easterbrooks & Goldberg, 1984) dan memiliki IQ yang lebih tinggi (Yogman, 1995) serta prestasi akademik yang lebih baik (Goldstein, 1982).

Belum lagi dari segi perkembangan emosional.  Anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan terbukti dari hasil penelitian akan memiliki resilient (daya tahan) yang lebih baik dalam menghadapi situasi yang stressful (Parke & Swain, 1975), lebih memiliki rasa ingin tahu terhadap lingkungan (Biller, 1993), lebih memiliki keberanian, mudah mengatur emosi dan lebih mudah beradaptasi (Biller, 1993).

Mau data lagi?  Dari perkembangan sosial, anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pengasuhan akan memiliki hubungan yang lebih positif dengan teman-temannya, menunjukkan emosi negatif yang lebih sedikit (Grossman, 1992) dan mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang lebih toleran dan pengertian (McClelland, 1978).  Long term effects-nya, anak-anak ini akan menjadi orang yang sukses dan dapat bersosialisasi dengan baik serta memiliki kehidupan perkawinan yang baik pula (Rueter & Biller, 1973).

Kayaknya perlu sebuah buku untuk membahas pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak karena memang hasil-hasil penelitian juga mengindikasikan demikian.  Keterlibatan ayah memang bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pencapaian perkembangan seorang anak, namun apa masih mau berkelit jika kita kembalikan pada hakekat kebenaran bahwa anak adalah amanah, dan setiap amanah akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat.

Ayo para ayah….tunggu apa lagi????


Wanita Super

Februari 27, 2010

Mungkin untuk orang yang sering ke Jakarta naik bis kota, hal ini tidak mengherankan. Tapi buat aku yang jarang melakukannya, pemandangan ini membuatku terkejut juga.

Hari ini, 26 Feb 2010, aku janjian ketemu dosen Universitas Negeri Jakarta untuk membahas proposal penelitiannya yang mungkin bisa aku gunakan juga untuk materi tesisku. Jadilah aku berpetualang naik turun bis, angkot dan metromini yang sudah tidak familier lagi sejak aku jadi mahasiswa IPB 20 tahun yang lalu dan tinggal di kota Hujan itu.

Bis kota pertama yang aku naiki, ternyata keneknya perempuan. Saat pulang aku juga naik bis yang keneknya perempuan. Mungkin memang sekarang hal itu sudah lumrah karena begitu sulitnya ekonomi saat ini. Namun yang membuatku makin geleng-geleng kepala adalah ketika aku melihat seorang kenek metromini yang tengah hamil sedang bergelantungan di pintu metromini. Wanita Super……….

Sudah sedemikian sulitkah ekonomi saat ini sampai ibu hamil harus rela bergelantungan di metromini untuk mencari nafkah? Atau begitukah gambaran ketidakpedulian laki-laki sampai mengizinkan istrinya yang sedang hamil bergelut dengan resiko tinggi kecelakan? Ataukah itu sebuah potret makin tingginya kesadaran masyarakat tentang konsep kesetaraan gender? Tapi yang jelas bukan karena iseng belaka kan?

Apapun alasan ibu hamil itu mencari nafkah dengan taruhan besar bagi dirinya ataupun janin yang dikandungnya, yang jelas semua itu menggelitik nuraniku untuk terus mengatakan bahwa hidup adalah perjuangan dan jangan mudah menyerah pada keadaan. Jadi malu juga sama diri sendiri. Pekerjaan di rumah yang menumpuk karena gak ada asisten yang bantuin, anter jemput anak sekolah, urusan di sekolah dan rumah yatim yang gak bisa ditunda, complaint orang tua siswa, tugas kuliah yang masya Allah buanyaknya, belum lagi dapur bocor yang bikin banjir walaupun cuma gerimis dan empat anak yang semua butuh perhatian,……………..semuanya jadi terasa sepele ya…. Paling tidak, aku tidak harus gelantungan di metromini waktu aku hamil dulu….

Syukuri apa yang ada… hidup adalah anugrah..tetap jalani hidup ini…melakukan yang terbaik…..
Jangan menyerah…jangan menyerah……..the masiv*mode on*….


CERI

Februari 7, 2010

Melly Kiong, seorang penulis terkenal yang ada di friendlist-ku, minta sharing tentang pengalaman tentang pohon kersem (ceri). Aku jadi ingat untuk menulis juga kisahku tentang ceri…

Melihat pohon ceri selalu mengingatkanku pada masa kecil. Dulu aku sering ikut ke kantor Papa yang banyakkkkk sekali pohon cerinya. Sambil menunggu Papa bekerja, aku selalu ribut minta diambilkan buah-buah ceri yang ceria itu. Yang ngambilin tentara2 lagi (he.he nakal ya aku…) Entah kenapa kebahagiaan memetik dan menikmati buah ceri selalu membawa kebahagiaan sendiri buatku. Jujur aja, ada sensasi yang berbeda saat kumelihatnya (dahsyattt banggget).

Sampai sekarangpun, dimanapun aku melihat pohon itu, selalu aku melirik-lirik nakal mencari buahnya yang siap disantap. Sampai-sampai anak-anakku bilang, “ih umi kalo liat ceri kayak liat permata aja..”.. Dalam hati aku jawab, “lebih dari itu kak, karena banyak kenangan indah masa kecil yang melekat pada buah imut itu…”

Kenangan tentang Mama yang sudah dalam pelukanNya, tentang Papa yang sangat-sangat aku sayangi, tentang tentara yang pernah jadi bagian dari cita-citaku dulu dan tentang masa kecil yang penuh warna…….

Ohh ceri..kau begitu berjasa membuat hidupku ceria…


TOLSTOY STORY

Januari 17, 2010

Beberapa hari yang lalu, saya sempet ke perpustakaan UT cari referensi.  Di antara buku-buku yang saya cari ada sebuah buku tentang psikologi karangan Robert Coles yang di dalamnya ada sebuah cerita singkat namun dahsyat karangan Leo Tolstoy yang membuat saya tertegun dan membuat mata saya berkaca-kaca.  Cerita begini:

Kakek itu sudah sangat tua.  Kakinya sudah tak mau lagi diajak berjalan, matanya tak bisa melihat, telinganya tak bisa mendengar.  Ia sudah tidak mempunyai gigi lagi, jadi bila ia makan, makanannya berjatuhan dari mulutnya.

Anaknya dan menantu perempuannya sudah tak mau lagi menyiapkan tempat untuk kakek itu di meja makan.  Mereka memberi kakek itu santap malam di belakang dapur.  Suatu hari, mereka memberi makan malam kepada kakek itu dalam sebuah mangkok.  Ketika kakek akan memindahkan mangkok tersebut, tidak sengaja mangkok itu jatuh dan pecah.  Sang menantu perempuan menggerutu karena kakek tua itu sudah sering menumpahkan apa saja di rumah dan juga mangkok-mangkok.  Si menantu berkata bahwa sekarang ia akan memberinya makan malam dalam baskom yang biasa digunakan untuk mencuci piring.  Kakek tua itu hanya mengeluh dan tidak dapat berkata apa-apa.

Suatu hari, ketika suami istri itu ada di rumah, mereka mengamati anak laki-laki mereka yang masih kecil bermain di lantai dengan beberapa bilah papan kayu: ia sedang membuat sesuatu.  Ayahnya bertanya: “Apa yang sedang kamu lakukan, Misha?”  Dan Misha berkata:  “Ayah sayang, aku sedang membuat baskom pencuci piring.  Jadi, bila Ayah dan Ibu sudah tua, Ayah dan Ibu bisa makan dari tempat ini.”

Suami istri itu saling berpandangan dan mereka menangis…………….

Semoga cerita ini membawa manfaat terutama buat saya yang masih banyak kekurangan dan kadang belum bisa menghargai orang lain sebagaimana seharusnya.  Maafkan…


Kudung Aku Mana Mi?

Desember 27, 2009

Hari ini, 26 Des 2009, dua hari menjelang usianya yang kedua, Nayla terbangun saat kunyalakan lampu kamar.  Aku terkejut mendengar kalimat  yang diucapkan saat ia membuka matanya. “Kudung aku mana Mi?”. Aku tanyakan lagi padanya, “Kenapa Dek?”, dan ia mengulang pertanyaan yang sama, “Kudung aku mana Mi?”……. Masya Allah…mimpi apa Nayla semalam, sampe bangun tidur yang ditanya pertama kali adalah kerudungnya?  Lalu aku katakana padanya, “Kudung adek ada, emang adek mau apa?”  Dia menjawab singkat, “Colat mejid”, maksudnya sholat di Mesjid.  Heboh rumahku pagi tadi karena banyaknya pujian dan ciuman buat Nayla dari aku dan kakak-kakaknya.

Mungkin beberapa hari ini, kakak-kakaknya sering mengajaknya ke Mesjid, maka memori itu tersimpan dalam benaknya sampai terbawa mimpi.  Makanya kalo waktu maghrib tiba dan dia lihat kakak-kakaknya siap ke Mesjid, ia akan buru-buru ke kamar ambil kerudung.

Menurut penelitian, tiga tahun pertama kehidupan seorang anak akan menentukan bagaimana bagaimana ia di kehidupan dewasanya kelak.  Tim Utton menyatakan, “At 3, you are made for life….” (Pada usia 3 tahun, kamu dibentuk untuk seumur hidup).

Memang perlu penyelidikan lebih lanjut, karena banyak faktor yang akan ikut berpengaruh pada diri seseorang sampai ia bisa menjadi “seseorang”.  Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan di usia dini menjadi faktor yang sangat besar pengaruhnya.  Siapa yang paling bertanggungjawab untuk melakukannya? Tentulah orang tua dan keluarga merupakan tempat pertama dan utama untuk membentuk pribadi anak seutuhnya.  Salah asuhan di waktu kecil, apalagi di tahun-tahun awal kehidupannya, akan berakibat fatal bagi perkembangan kepribadiannnya kelak.

Makanya aku bilang pada 3 anakku yang pertama, bahwa kehadiran Nayla yang berjarak cukup jauh (terpaut 8 tahun dengan anak ketigaku) adalah SEBUAH PROYEK BESAR.  Artinya, kami semua, -tanpa terkecuali- harus menjadi contoh yang baik buat Nayla supaya ia mendapat lingkungan yang kondusif untuk perkembangan pribadinya.  Semua harus berjuang supaya menjadi lebih baik.

Sehubungan dengan memori yang akan disimpan oleh seorang anak, sebuah penelusuran sejarah telah dilakukan oleh Alice Miller tentang masa kecil Hitler, Sang Pembantai.  Hitler Kecil, pada saat kanak-kanak sering disiksa oleh ayah kandungnya yang keturunan Yahudi.  Memori it uterus tersimpan dalam benaknya sehingga terbentuklah Hitler Dewasa yang super super kejam sebagai bentuk pelampiasan dendam pada ayahnya.  Na’udzubillahi min dzalik….

Anak-anak memang selalu menjadi interesting subject matter (seperti kata dosenku, Bu Melly) yang tidak akan pernah bosan untuk jadi bahan pembicaraan.  Aku bersyukur, Allah telah mengamanahkan kepadaku anak-anak yang sholehah, sehat, cantik dan cerdas (he..he.. siapa lagi yang mau ngebanggain mereka kalo bukan aku, ibunya….prikitiiwww).

Paling tidak itu akan menjadi sebuah doa yang akan didengar oleh Yang Maha Mendengar.  Amiiin…

Walaupun mereka masih harus sering diingatkan untuk mandi, belajar atau sholat, dan suka bikin kita nangis kalo lagi susah diatur (seperti yang suka aku alami), tetapi kita tetap harus yakin bahwa mereka kelak akan jadi kebanggaan kita.  Yakin…yakin dan yakin…dengan bimbingan dan do’a kita pada Yang Maha Memiliki, kelak mereka akan jadi yang terbaik.  Dan JANGAN PERNAH BILANG BEGINI PADA MEREKA, “KAMU KOQ SUSAH BANGET DIBILANGIN SIH, MAU JADI APA NANTI KALAU SUDAH BESAR????”

Sesungguhnya ucapan kita adalah do’a.  Maka berprasangka baiklah pada Allah, karena Allah Yang  Maha Membolak-balikkan Hati.  Allah jualah yang memiliki anak-anak kita.  Maka bermohonlah pada Sang Pemilik.  Sesungguhnya Dialah yang akan menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin atau sebaliknya.

Ana inda dzonni ‘abdi

Aku (Allah) tergantung persangkaan hambaKU padaKU

Jika mereka kelak menjadi seperti apa yang kita harapkan, janganlah berbangga diri bahwa itu semua karena usaha dan kerja keras kita semata.  Selalu jaga dalam hati bahwa keberhasilan yang kita raih, apapun bentuknya, adalah karena rahmat dan kasih sayang Allah.  Sama halnya jika seseorang masuk surga, itu bukan karena amal ibadahnya semata tetapi LEBIH karena rahmat dan kasih sayangnya Allah.  Dengan begitu mudah-mudahan kita jadi lebih meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.

Ya ALLAH, lindungi anak-anak kami dari melakukan perbuatan buruk dan sia-sia dan jadikan mereka sebagai hambaMU yang taqwa…..Amiin


Bidadari-bidadari

September 22, 2009

Bidadari-bidadari kecilku….
Hidup ini adalah guru
Temukanlah guru dalam hidupmu
Yang mengajarimu banyak hal tentang hidup
Seperti hadirmu dalam hidupku
Yang terus membuat guratan demi guratan penuh arti
Dalam lukisan kehidupanku

Aku ajari kau bicara
Kau ajari aku berlaku sabar
Aku ajari kau berjalan
Kau ajari aku bertindak bijak
Aku ajari kau bermain
Kau ajari aku berbuat adil
Bukankah kita sama belajar..??
Dalam sekian rentang waktu yang telah kita lalui
Dan akan selalu begitu
Sepanjang waktu

Bidadari-bidadari kecilku…..
Maafkan aku karena kadang tak menyelamimu terlalu dalam
Seperti aku memaafkanmu atas tumpahan susu di atas karpetku
Maklumi aku karena sering tak memahami tingkahmu
Seperti aku memaklumimu atas mainan berserakan di ruang tamuku
Bukankah kita sama belajar…??
Dalam sekian rentang waktu yang telah kita lalui
Dan akan selalu begitu
Sepanjang waktu

Pamulang, 16 September 2009
Untuk empat bidadari dalam surgaku:
Risyda, Azka, Difa, Nayla

I Love You So Much


SENINAR DAN WORKSHOP SAINS

Agustus 4, 2009

Hari Sabtu tgl 25 Juli 2009 menjadi begitu berarti buat kami sebagai penyelenggara Seminar dan Workshop Sains.  Betapa tidak, ini kali pertama kami mengadakan event yang lumayan besar dengan mengundang guru-guru se-kecamatan Sawangan.

Awalnya memang bisa dikatakan, kegiatan ini “hanya” merupakan “side effect”.  Saya yang mendapat tugas sebagai guru sains di sekolah ini merasa belum banyak tahu tentang cara penggunaan KIT IPA yang kebetulan tersedia di sekolah.  Akhir tahun 2008 yang lalu, beberapa “kebetulan-kebetulan” yang lain rupanya menuntunku untuk mulai bersentuhan dengan dunia maya, sampai akhirnya ikutan facebook dan buka blog.  Dari media itulah, akhirnya saya bertemu kembali dengan teman-teman lama termasuk teman saya yang sekarang telah menjadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah, namanya Yanti Herlanti.  Selain sebagai teman seangkatan waktu kuliah dulu, saya sempat menjadi partner (atau lebih tepatnya asisten, karena dia leadernya) dalam penelitian  inovatif tentang rumput laut.  “Kebetulan” juga, sekarang dia aktif di Center for Science Education (CSE) yaitu sebuah lembaga yang concern di bidang pendidikan sains dan pengembangannya.  Jadi untuk soal kurikulum IPA, termasuk penggunaan KIT IPA tentu jadi makanannya sehari-hari.

Waktu pertemuan pertama kami sejak lulus kuliah di IPB, aku mengatakan ingin mengikuti pelatihan tentang metode pembelajaran dan penggunaan KIT IPA. Namun dari pembicaraan itu, akhirnya aku malah memberanikan diri untuk menjadi Event Organizer (EO) pelatihan sains. Saya pikir, kalau di SD tidak terakomodir, saya akan mengakses dari TK karena saya juga mengelola sebuah TK dan kegiatan ini akan melibatkan guru-guru TK dan SD dengan prinsip mengenalkan fun science.

Kenekatan itu akhirnya membuahkan hasil.  Ternyata di SD Pd Petir 03, tempat saya mengajar, niat saya itu mendapat tanggapan positif dari rekan-rekan guru dan juga kepala sekolah.  Akhirnya dari beberapa kali pertemuan dengan Yanti baik secara nyata maupun maya, disepakati untuk mengadakan seminar dan workshop.  Sedianya akan dilaksanakan 2 hari, tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk mengadakannya sehari penuh yaitu di hari Sabtu tgl 25 Juli 2009.

Walaupun tidak memenuhi target dalam jumlah peserta, tapi secara umum pelaksanaan seminar dan workshop tersebut berjalan lancar dan peserta juga terlihat sangat antusias selama mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.

Dari kegiatan ini, banyak hal yang kami dapatkan, terutama bagi saya yang masih banyak kekurangan.  Salah satunya adalah, saya belajar bahwa sesuatu akan menjadi baik jika sejak awal kita niatkan Lillahi Ta’ala, mencari keridhoan Allah.

Keputusan saya untuk menceburkan diri di dunia maya bukan keputusan yang mudah karena jika salah sedikit saja dalam melangkah maka seluruh dunia akan menjadi saksi dalam hitungan sepersekian detik.  Sebab itu, kuniatkan semua ini untuk menebar manfaat pada siapapun dimanapun dan aku mohon pada Allah atas bimbinganNya agar tidak salah dalam melangkah.

Paling tidak, dengan terselenggaranya kegiatan ini, niat tebar manfaat itu sudah menemukan jalannya.  Pertemuanku dengan teman lamaku di dunia maya dapat memberikan hal baru bagi dunia pendidikan.  Lingkupnya kecil memang… tapi bukankah sebuah langkah besar pasti dimulai dari langkah yang kecil….?  Semoga ada langkah-langkah berikutnya yang dapat “mengubah dunia”….


Bagian Tersulit Bagi Seorang Ibu

Juli 16, 2009

Malam ini, 16 Juli 2009, aku mendapat kabar dari sekolah Azka kalau anak keduaku itu sedang di ruang UKS karena sakit perut.  Dia sedang mabit (bermalam.Red) di sekolah dalam rangka kegiatan MOS.  Memang siang ini dia telat makan karena datang ke rumah hampir jam 3 sore karena harus jalan kaki dari tempat angkot berhenti.  Aku memang menjemput dia seperti biasa, tapi agak kurang connect di mana posisinya saat itu, jadi kami berselisih jalan.

Tanpa istirahat, langsung mandi dan makan siang yang kesorean lalu sholat Ashar, kami langsung berangkat lagi ke sekolahnya karena semua harus kumpul jam 5 sore.

Waktu aku pulang, dia fine-fine aja.  Ceria seperti biasa dan tidak pernah sungkan untuk menciumku bertubi-tubi dimanapun dia berada.

Tapi baru saja, aku mendapat telpon dari gurunya tentang kondisinya.  Satu hal yang membuat airmataku tak kuasa terbendung.  Waktu gurunya bertanya, apakah aku perlu datang, dia menjawab dalam kondisi sakitnya, “Gak usah Bu, saya mau mandiri…..”.

Yaa Allah…..…Azka, anak yang paling aku khawatirkan di antara anak-anakku yang lain karena sifat ketergantungannnya yang sangat tinggi, sekarang mengatakan hal yang tak terduga seperti itu…..

Aku mohon pada guru anakku untuk menyampaikan salam padanya dan mengatakan betapa kami bangga, sangat bangga memilikinya.

Langsung aku telpon suamiku yang sedang berada di luar kota dan menceritakan semuanya.  Seperti biasa dia segera mendoakan kebaikan bagi semua dan mengatakan, “…ini bagian tersulit bagi seorang Ibu kan………?”

Ya, dan di ujung telpon leherku tercekat tak mampu lagi berkata-kata…


Anakmu Bukan Milikmu

Juni 20, 2009

Sudah beberapa kali aku membaca puisi itu, tapi entah mengapa kali ini puisi itu terasa begitu menyentuh. Mungkin karena aku memang sedang ’klik’ aja atau karena momentnya yang pas. Puisi itu sangat popular. Karangan seorang penyair dan filsuf asal Lebanon, Kahlil Gibran. Bunyinya antara lain seperti ini:

Anakmu bukan milikmu
Mereka putra putri Kehidupan
Yang rindu pada dirinya
Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu
Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu
Sebab mereka punya alam pikiran sendiri
Berikan tempat bagi raganya, tetapi tidak untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka penghuni masa depan
Yang tiada dapat kau kunjungi,
Juga tidak dalam mimpi……
Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun tidak membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur
Juga tidak tenggelam di masa silam……

Subhaanallah…… puisi yang indah dan penuh makna. Tanpa terasa air mataku mengalir, padahal sekali lagi puisi itu telah sering kubaca. “Ya Allah… aku berlindung kepadaMu dari melakukan keburukan dan kedzoliman kepada anak-anakku…..”

Kadang kita tidak menyadari, sesuatu yang membuat hati kita kesal adalah jika anak-anak kita melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan atau tidak kita sukai dan sebaliknya kita akan merasa gembira dan bangga jika mereka menuruti semua mau kita, semua kehendak kita. Padahal tidak selamanya orang tua benar dalam segala hal, dan tidak selamanya anak tidak tau apa yang baik untuk diri mereka sendiri. Arogansi dan egoisme orang tua seringkali mengalahkan hak anak sebagai seorang pribadi yang dapat bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Contoh aja, sejujurnya, aku sering merasa kurang nyaman melihat anak-anakku belajar di depan tivi. Aku tau masing-masing anak punya gaya belajar yang berbeda, yang membuat mereka nyaman dan ‘enjoy’. Tapi aku pikir, mbok ya jangan di depan tivi gitu…. (takut ketuker ya nama pahlawan sama nama bintang sinetron??? He..he..). Tapi mungkin aku juga tidak harus bersikap terlalu kaku dalam menyikapi hal ini. Gak usah yang sampe keluar tanduk atau mata melotot seperti mau copot atau bimoli (bibir monyong lima senti) gitu kali ya…?!

Orang tua memang harus tetap punya aturan yang jelas dalam keluarga, supaya semua berjalan dengan kaidah yang semestinya. Tapi sekali lagi tidak semua pendapat orang tua pasti benarnya dan anak jadi tidak punya hak menentukan jalannya. Intinya, kesepakatan menjadi hal penting yang harus ditempuh, agar semua menjadi indah dan harmonis. Kalau diberi kepercayaan, sebenarnya anak-anak juga bisa koq tanggung jawab pada dirinya dan tugas-tugasnya. Tinggal kita sebagai orang tua mengarahkan dan membimbing mereka dengan full kasih sayang, bukan dengan paksaan atau tekanan. Buat mereka comfort dan kita akan lihat betapa dahsyatnya hasil kerja keras mereka.

Alhamdulillah, paling tidak hari ini aku dapat 2 kabar gembira, Si kakak peringkat kedua di kelasnya dan si Ade lulus SD dengan nilai rata-rata UASBN 8.50. Makanya aku bilang pada mereka, “Wah, kalo belajarnya gak sambil nonton tivi, mungkin Kakak bisa peringkat satu dan Ade bisa dapet rata-rata 9 ya?”

Rupanya ada aja cara buat kita orang tua membela diri yah…. (He..he.. gak mau kalah aja….)


Rasa Kehilangan

April 28, 2009

24 April 2009

Tukang sayur langgananku tadi bercerita tentang seorang anak yang baru saja kehilangan ayahnya.  Kebetulan anak itu juga muridku di sekolah.   Ayahnya meninggal karena kecelakaan pesawat Aviastar di Wamena pada 9 April yang lalu (pas saat pemilu 2009).  Anak itu tadi meledek tukang sayur langgananku, yang juga langganan ibunya.  Katanya, “Kasian deh Abang, gak bisa ketemu Papa lagi….”.  Si Abang kontan terhenyak dan mengatakan dadanya terasa sesak menahan haru…

Begitu polosnya anak-anak sampai saat ia “yang seharusnya” merasa kehilangan malahan justru “mengasihani” orang lain atas rasa kehilangan yang ia miliki.  Padahal jika ia tahu, orang lain yang mendengar kalimat polosnya itu merasa sedih dan terharu.  Betapa ia yang masih sangat belia, – usianya sekitar 7 tahun-, sudah ditinggal orang yang mencintai dan dicintainya, ditinggal orang yang menjadi tulang punggung keluarganya,  ditinggal orang yang sangat berjasa dalam hidupnya, panutannya, idolanya….. Betapa…

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.  Dan sesunguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung.  Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS Ali Imran (3): 185).

Begitulah Allah telah menggariskan dalam aturannya, bahwa hidup di dunia pasti ada akhirnya, ada kesudahannya, karena semua jiwa akan merasakan mati dan kembali ke hadiratNya untuk mempertanggungjawabkan semua amalan semasa hidupnya.  Dan beruntunglah orang-orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.  Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang beruntung itu.. Aamiin…


Main Hujan-hujanan

April 21, 2009

Main Hujan-hujanan

Lakukan pekerjaaanmu dengan hati

Waktu itu aku masih bersekolah di SD. Pernah suatu kali, kami sedang main kasti, tiba-tiba hujan turun. Sebagian anak, terutama anak perempuan, berlarian mencari tempat berteduh. Permainan belum selesai, karenanya Pak Pardi, Guru Olahraga kami memanggil kami kembali ke lapangan. Sebagian menolak untuk kembali ke lapangan karena takut sakit. Aku termasuk yang kembali ke lapangan dan melanjutkan permainan.

Memang hujan tidak terlalu deras dan juga tidak lama. Tapi badan kami cukup lumayan basah. “Pak, ntar kalau kita pada sakit gimana?” kata anak-anak waktu itu. Dengan santai Pak Guru menjawab, “Percaya gak, kalau hati kita senang, kita gak bakalan sakit deh. Tapi kalau dari pertama kamu udah merasa takut sakit, yah jangan salahin Bapak kalau kamu sakit”.

Waktu itu aku masih SD. Tapi kata-kata Guruku itu selalu aku ingat sampai sekarang. Melakukan pekerjaan itu harus dengan hati. Harus selalu gembira, bersemangat dan jangan gampang menyerah. Apapun pekerjaan kita. Maka pekerjaan beratpun akan terasa ringan dan ibadah kita dengan melakukan pekerjaan itu akan semakin sempurna.

====================================================

Hadiah yang Retak

Nilai dari sebuah hadiah ada pada ketulusannya

Aku masuk ke sebuah swalayan dekat sekolahku – di sebuah SLTP Negeri di daerah Kampung Melayu – dengan terburu-buru. Waktu itu musim hujan dan saat itu bulan Desember tepatnya tanggal 18.

Aku tidak punya uang banyak karena memang uang sakuku tidak pernah berlebih. Tapi kukumpulkan sisa ongkos metrominiku setiap hari agar bisa membelikan hadiah di ulang tahun Mama.

Bulan lalu, aku juga membelikan Papa hadiah ulang tahun di sini. Sebuah cangkir berwarna coklat muda dengan tatakannya yang bertuliskan “Papa”. Aku sangat berharap pasangan cangkir itu yang bertuliskan “Mama” masih ada di sini. Beberapa hari yang lalu memang masih ada, tapi entah hari ini. Kalau saja waktu itu uangku sudah terkumpul, pasti akan aku beli saat itu juga. Jadi aku gak perlu deg-degan seperti sekarang.

Bergegas aku menuju ke rak barang pecah belah. Syukur Alhamdulillah, cangkir “Mama” masih berada di tempatnya. Tanpa ragu lagi, kuambil cangkir itu dan kubawa ke kasir. “Akhirnya…”, kataku dalam hati, “Penantianku tidak sia-sia.”

Hari masih hujan. Di pintu swalayan banyak orang berdesak-desakan. Ada yang mau masuk, ada yang mau keluar dan ada juga yang sedang berteduh. Seseorang tiba-tiba menyenggol kantong belanjaanku dan…. ..cangkir “Mama” jatuh dari tanganku. Rasanya aku ingin memaki-maki orang itu, tapi aku pikir tak ada gunanya. Ya Allah….akankah penantianku sia-sia belaka?

Hari masih hujan, tapi kuteruskan langkahku menuju terminal Kampung Melayu. Aku ingin cepat pulang dan mengucapkan Selamat Ulang Tahun pada Mama walau tanpa apa-apa.

Cangkir itu memang pecah, tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk merekatkannya kembali. Kucium dan kukatakan pada Mama hadiah ini memang tidak “berharga” apalagi sekarang sudah tidak utuh lagi, tapi cintaku pada Mama yang membuatku tetap ingin mempersembahkannya untuk orang yang aku cintai.

Mama menerima hadiah “tak berhargaku itu” dengan binar kebahagiaan di matanya. Ia pasti tahu, kalau aku sangat dan sangat mencintainya.

Sejak Mama tiada, cangkir “Mama” itu kubawa ke rumahku sendiri bersama dengan cangkir “Papa”. Aku mau benda-benda itu, yang pernah kujadikan persembahan rasa cintaku, juga mengingatkanku bahwa berkat cinta Papa Mamaku yang membuatku hidupku lebih berarti.

Bersyukurlah mereka yang masih memiliki orang tua apalagi jika masih ada keduanya. Berdo’alah selalu agar mereka diberi usia yang panjang. Dengan begitu, tersedia waktu yang panjang pula bagi kita untuk berbakti dan membahagiakan mereka walau kita tahu tak ada yang bisa menggantikan setetes keringatpun yang telah mereka cucurkan demi kita, anak-anaknya…………


Nenek yang Harus Bayar

April 3, 2009

Nenek yang Harus Bayar

Suatu hari, sahabat saya bercerita tentang kedua anaknya. Kebetulan sahabat saya itu masih tinggal bersama orang tuanya. Pernah suatu hari, Nenek bergurau pada cucunya. Katanya, “Coba kalau ayah kamu bayar kontrakan tiap bulan ama Nenek, pasti sekarang Nenek udah kaya ya.” Dengan polosnya sang cucu berkata, “Harusnya Nenek juga bayar sama aku dan adek karena Nenek kan suka ketawa kalau liat aku ama adek lagi lucu.” Spontan si Nenek tertawa terbahak-bahak karena tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari cucunya.

Kalau saja kita para orang tua mau jujur pada diri sendiri, sebenarnya orang tua harus membayar mahal untuk setiap kebahagiaan yang mereka dapatkan dari anak-anaknya! Hanya kebanyakan dari kita kadang enggan mengakuinya. Oleh karenanya, kita harus syukur atas anugerah besar yang Allah berikan pada kita. Bersyukurlah kita bisa tertawa sekaligus menangis karena mereka. Bersyukurlah dan berbuatlah yang terbaik untuk mereka, buah hati kita…..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.