Buku Harian

Dijamin dan Tidak Dijamin

Seperti biasanya, sebelum masuk kelas, guru-guru ngobrol santai di ruang guru. Seperti biasanya pula, kepala sekolah kami yang juga seorang ustadz ikutan nimbrung.
Bagi orang lain, mungkin ungkapan-ungkapannya biasa saja, karena ia juga menyampaikannya dengan caranya yang santai dan tidak menggurui. Tapi bagiku, kalimat-kalimat yang diucapkannya seringkali menjadi catatan tersendiri dalam hati dan pikiranku.
Waktu itu, entah apa yang sedang melintas di pikirannya, beliau mengatakan, “Heran ya..kenapa untuk sesuatu yang sudah jelas dijamin, orang sampai pontang-panting ngebelain, kepala jadi kaki…kaki jadi kepala. Tapi untuk sesuatu yang gak ada jaminannya orang pada seenaknya.. lalawora..ceuk orang sunda mah…”.
“Maksudnya gimana tuh pak…” tanyaku singkat.
“Rejeki itu sesuatu yang udah dijamin sama Allah dan jelas dalam ayatnya bahwa tidak ada satu binatang melatapun di bumi ini melainkan Allah telah menetapkan rizqi baginya.
Tapi manusia ngejar-ngejar yang namanya harta dari pagi sampe malem, dari malem sampe pagi lagi, gak inget waktu,” ujarnya.
“Trus yang gak dijamin apa Pak?” tanyaku lagi.
“Yang gak dijamin itu surga dan neraka. Mana tau kita mau masuk surga atau neraka nantinya. Tapi orang santai-santai aja untuk urusan yang satu ini. Sholat entar, puasa ogah, zakat apalagi. Padahal yang udah merasa ngejalanin juga kan belum ada jaminan masuk surga, apalagi yang enggak…” jelas Bapak panjang lebar.
“Yahhh gitu deh Bu kira-kira…” ujarnya sambil melepas pandangannya ke luar ruangan.
Aku manggut-manggut sendiri. Masya Allah, bener juga ya…. Satu lagi pelajaran berharga yang kudapat hari ini.

Bagaimana jaminan kita ???

====================================================

PELAJARAN  BERHARGA

Setiap orang dapat memberi kebahagiaan untuk orang lain dengan caranya masing-masing

Biasanya aku sering nebeng suamiku kalau sedang ada keperluan ke Ciputat. Tapi kali ini tidak, karena ia berangkat agak terburu-buru, dan entah kenapa anak-anak sedang tidak bisa diajak kompromi. Yang minta inilah, yang kehilangan itulah, ini, itu, dan lain sebagainya. Wah, mau ngirit ongkos jadi gak bisa nih. Lumayan kan, ojek 5000 rupiah, angkot 2000 rupiah. Terpaksa hari ini aku harus ber-angkot ria.
“Silakan Mbak”, kata supir angkot itu ketika aku masuk angkotnya.
Tidak seberapa jauh, salah seorang penumpang turun. “Ya sebentar, Pak. Maaf ya, agak ke depan sedikit,” katanya lagi. Bapak itu menyerahkan beberapa lembar ribuan pada Pak Supir dan kali ini dijawab lagi dengan “Terima kasih banyak ya Pak..”
Seorang pelajar naik. Tapi hanya kurang lebih 500 meter dia sudah sampai tujuan. Diserahkanya uang lima ribuan pada Pak Supir yang langsung menyerahkan uang kembaliannya dan berkata, “Dihitung dulu Neng, kurang gak kembaliannya.” Tanpa suara si Neng yang ditanya ngeloyor pergi.
Satu penumpang lagi turun. Setelah bayar dan menerima ucapan terima kasih dari Pak Supir, ia dapat bonus tambahan do’a juga. “Hati-hati ya di jalan,” kata Pak Supir penuh perhatian.
Begitu seterusnya drama berlangsung silih berganti. Dengan maupun tanpa respon balik dari penumpang, Pak Supir terus melontarkan kata demi kata santun dari mulutnya.
Entah apa yang ada dalam benak penumpang lain, terutama yang dari awal menyaksikan drama ini. Tapi yang jelas, aku terkagum-kagum. Pikirku, “Hari gene….masih ada ya orang kayak gini”
Kalau menurutku, Pak Supir ini pantesnya jadi Customer Service sebuah Bank Terkenal atau Manager Hotel Berbintang dan semacam itulah. Pasti perusahaan tempatnya bekerja puas dengan hasil kerjanya karena bisa merebut hati konsumen sebanyak mungkin. Atau dia sudah pernah ikutan ESQ barangkali, sehingga Kecerdasan Emosional Spiritualnya terasah dengan baik! Kalau ada kesempatan, mungkin kehidupannya jauh lebih baik dari sekarang karena menurutku dia punya potensi besar. (Kayak peramal aja..!)
Giliranku turun. Karena tidak ada uang receh, aku serahkan limaribuan. Sambil menyerahkan uang kembalian, dia bilang,”Kurang gak Mbak kembaliannya?” Seumur hidup, baru aku temui Supir bertanya kembaliannya kurang atau tidak. Bener-bener berani tampil beda dia…..
“Alhamdulillah cukup Pak,” kataku sambil melihat uang kembalian 3000 rupiah di tanganku. “Terima kasih banyak Pak, saya senang naik angkot Bapak.”
Tadi pagi, aku agak kesal karena harus naik angkot. Tapi sekarang, aku bersyukur aku bisa naik angkot ini. Ada pelajaran berharga yang aku dapatkan dari Pak Supir.

Setiap orang pasti bisa membahagiakan orang lain, dengan caranya masing-masing.
Bagaimana dengan kita?
====================================================

YANG  TAK  TERLUPAKAN

27 Feb 2009…

Pagi tadi, Bu Lasmi, Guru Bahasa Indonesia di sekolah kami bercerita tentang murid TK-nya dulu. Murid itu, aku lupa namanya, tapi sebut saja Reno, begitu dekat dengannya sejak ia TK sampai kelas 2 SD. Apapun yang ia lakukan maunya sama bu Lasmi, dikit-dikit Bu Lasmi, dikit-dikit Bu Lasmi. Sampai-sampai kemanapun Bu Lasmi pergi, Reno selalu jadi buntutnya Bu Lasmi.
Suatu saat, ketika ada kegiatan renang, Bu Lasmi mencoba ‘melepaskan diri’ dari Reno. “Toh, ada Mama dan Tantenya yang ikut mendampingi,” pikirnya. Tapi saking “lengketnya”, tetep aja Reno ini minta dimandiin sama Bu Lasmi. Makin keukeuh Bu Lasmi menolak, makin keukeuh juga Reno menjalankan aksinya. Gak tanggung-tanggung, ia melakukan aksi telanjang bulat di pinggir kolam renang. Ditunggu sampe beberapa saat tetap saja ia pasang aksi nekatnya itu. Sampai akhirnya Bu Guru kita ini nyerah..…daripada malu diliatin orang satu kolam renang.
Ceritanya berlanjut setelah belasan tahun kemudian (kayak filem aja).
Pada suatu sore, Bu Lasmi kedatangan 2 orang anak muda di rumahnya. Karena memang tidak mengenali mereka, Bu Lasmi dengan polosnya menanyakan siapa mereka dan ada keperluan apa. Dua orang laki-laki yang sudah bukan anak-anak lagi itu, spontan merajuk…”ihh Ibu koq gak kenal kita lagi sih…”. Gayanya persis seperti anak TK yang merajuk pada gurunya. Akhirnya setelah mengorek satu dua memori, Bu Lasmi tau siapa yang ada di hadapannya, yang tidak lain adalah Reno, si buntut (?)
Reno menyampaikan undangan pernikahannya dan sangat mengharapkan kedatangan Bu Lasmi di hari besarnya itu. Setelah yakin ‘guru kesayangannya’ akan datang, mereka pulang dengan hati riang.
Malam telah menjelang. Bu Lasmi baru sempat membuka undangan dari Reno. Keharuan sejenak menerpa dirinya. Betapa tidak, di dalam undangan itu terselip amplop berisi uang sekitar tiga ratus ribu rupiah. Makin bulatlah tekad Bu Lasmi untuk datang ke pernikahan Reno dan ia sibuk berpikir hadiah apa yang pantas ia berikan pada mantan muridnya itu. Senyumnyapun ikut mengembang saat kenangannya kembali ke masa lalu, terutama saat Reno beraksi telanjang bulat di kolam renang.
Memenuhi janjinya, Bu Lasmipun datang di pesta pernikahan Reno. Beliau menyiapkan sprei dan sebuah foto ‘zaman baheula’ yang di-repro dan diberi bingkai. Foto itu tidak lain adalah foto Reno saat menjadi juara pada lomba tari kreasi. (Untung bukan foto telanjangnya watu di kolam renang..…he…he…)
Malam harinya, secara tak disangka, Reno menelpon Bu Lasmi. “Ibu, di malam pertama saya ini, yang saya inget cuma Bu Lasmi. Hadiah Ibu begitu berharga bagi saya, melebihi semua yang saya dapatkan hari ini. Makasih ya Bu. Ibu begitu berharga buat saya…”

Bukan hanya Bu Lasmi yang punya air mata di sudut matanya pagi ini. Leherkupun tercekat menahan air mata…

====================================================

WAJAH-WAJAH  MUNGIL DI JENDELA KAMAR

Luangkan waktumu barang sejenak untuk menanyakan apa yang dirasakan oleh anak-anakmu

Waktu aku hamil yang keempat kalinya, aku lebih sering berada di kamar karena fisikku yang lemah. Apalagi beberapa kali aku pendarahan. Di mata anak-anakku, mungkin aku terlihat sangat ringkih dan lemah.

Entah kenapa dalam kondisi seperti itu, anak-anakku justru semakin meminta perhatian yang menurutku sangat berlebihan. Apalagi menurutku, mereka sangat mengharapkan kehadiran seorang adik lagi dalam rumah kami dan merekapun sudah pernah punya adik sebelumnya, kecuali anak ketigaku tentunya. Tambahan lagi usia mereka yang menurutku lagi, sudah cukup besar untuk punya adik lagi. Kakak 9,5 tahun, Tengah 7,5 tahun dan Adek 5,5 tahun.

Setiap aku masuk kamar, mereka selalu mengejarku dan merengek minta ikut masuk. Kadang kuturuti saja permintaan mereka karena lelah untuk bernegosiasi, tapi tak jarang aku jadi uring-uringan pada mereka.

Yang lebih parah, kalau mereka tidak berhasil masuk kamar, wajah-wajah mereka langsung bermunculan di jendela kamar, mengharapkan belas kasihanku untuk sekedar membukakan pintu kamar. Kadang aku pura-pura tertidur lelap, supaya mereka langsung pergi. Tapi lebih sering aksiku itu tidak berhasil, karena mereka lantas memanggilku dari mulai nada rendah sampai nada tinggi untuk sekali lagi berharap aku berkenan membukakan pintu. Alhasil, lebih sering aku menyerah daripada suara mereka terdengar sampai ke ujung gang rumahku.

Suatu hari, aku berhasil mencuri masuk ke kamarku tanpa terlihat oleh mereka. Lucu juga sih, jadi kucing-kucingan seperti itu. Tapi itu hanya berlangsung beberapa menit saja, karena wajah mereka sudah muncul lagi di jendela kamarku. Hari itu, entah karena aku memang sedang sangat lelah atau karena sedang tidak mood , aku marahi mereka dan sama sekali tidak mengijinkan mereka masuk.

Beberapa saat menjelang azan Maghrib, aku dengar mereka sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Mesjid. Dan tak lama, aku dengar mereka pamit satu per satu seraya mengucapkan salam. Aku jawab salam mereka tanpa membuka pintu kamar.

Hening tanpa suara jeritan anak-anakku membuatku terdiam dalam perasaan yang belum pernah kurasakan. Air mataku mulai membasahi pipi. “Ya Allah, kenapa aku harus memarahi mereka hanya karena mereka ingin dekat denganku….?”

Rasa sepi dan kesendirianku ini semakin membuatku merasa bersalah pada mereka. Waktu sholat Maghrib yang hanya sebentar itu terasa lama bagiku yang mengharapkan anak-anakku cepat pulang dari Mesjid dekat rumahku.

Seperti biasa, ucapan salam Adek yang paling heboh membuyarkan lamunanku. Mereka mencium tanganku dan minta maaf seperti yang biasa mereka lakukan setiap habis sholat.

Inilah saat yag tepat! Aku ajukan pertanyaan yang selama beberapa hari terakhir ini menggangguku. “Kenapa sih, kalau Umie lagi di kamar, kalian pengennya ikut masuk terus, sampai gedor-gedor jendela segala?”

Jawaban Tengah cukup singkat dan di-iyakan oleh saudara-saudaranya, “Kita kan takut kalau Umie lagi dikamar tau-tau Umie meninggal……”

Sederhana saja, tapi itulah rasa takut kehilangan yang mereka ekspresikan dengan cara mereka. Dan itu dilakukan karena mereka menyayangiku tentu.

Kalau saja, aku mau meluangkan waktu untuk bertanya dan mendengarkan jawaban mereka, tentu aku tidak perlu memarahi mereka seperti sore tadi ketika wajah-wajah mungil mereka nongol di jendela….

Maafkan Umie, Nak…..

======================================================

PLANETARIUM

Hari ini, tgl 4 Juli 2009, kami sekeluarga berencana untuk ke Planetarium naik Busway.  Tapi karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan dan hari sudah siang, akhirnya kami memutuskan naik taxi dan berharap masih bisa naik Busway saat pulang nanti.  Kebetulan banget mobil sedang dipinjam kakakku di kampung untuk keperluan pernikahan putranya, jadi kami punya alasan kuat untuk berkendaraan umum ria…

Alhamdulillah, Allah Maha Adil, untungnya hari ini ada pertunjukan tambahan jam 16.00.  Kalau tidak, maka kami tidak akan bisa nonton pertunjukan hari ini karena tiket untuk pertunjukan terakhir jam 14.30 sudah habis terjual.  Terima kasih ya Allah…..

Setelah menunggu sekitar 2,5 jam, akhirnya kami masuk juga ke gedung pertunjukan.  Ihhh seneng banget, aku terakhir ke tempat ini sekitar 26 tahun yang lalu.  Kami duduk di barisan paling depan.  Nayla bersamaku.  Seperti biasa, walaupun gerakannya sangat aktif tapi dia bisa menikmati pertunjukan tanpa tangisan atau rengekan karena gelapnya ruangan.

Setelah selesai, kami sholat Ashar dan membeli beberapa buku ensiklopedi anak.  Seperti biasa di setiap sudut ruangan anak-anakku menyempatkan diri untuk berpose bak foto model.  Memang hal kecil seperti itu menjadi hiburan tersendiri buat mereka.

Pulangnya kami makan pecel lele di pinggir jalan dan masih berharap bisa pulang naik busway.  Tapi dari beberapa informasi yag kami peroleh, ternyata jalur busway yang terdekatpun cukup jauh dari TIM.  Waktu sudah mulai petang dan rasanya tidak memungkinkan untuk tetap berharap naik busway.

Akhirnya kami naik KOPAJA jurusan Lebak Bulus yang supirnya ngebut gila-gilaan.  Beberapa kali, KOPAJA yang kami tumpangi masuk jalur busway, jadi kami punya alasan pada anak-anak kalau kami sedang naik busway, cuma bedanya KOPAJA non AC… (maksa banged sih..)

Saat kondektur membunyikan uang receh di genggamannya dan berjalan mendekati penumpang, si kakak bertanya apa maksud tindakannya itu.  Aku jelaskan kalo kondukter sedang meminta ongkos pada para penumpang.

Di perempatan Kuningan, semua kendaraan berhenti cukup lama.  Tau kan gimana manusia Jakarta yang kesabarannya di jalan tipis banget.  Saat lampu hijau kendaraan terdepan masih belum bergerak, kontan suara klakson meraung-raung tak sabaran.  Rupanya setelah beberapa saat kami tahu kalo pak Presiden SBY lewat.  Anak-anak juga jadi tau kalo presiden atau pejabat lewat, semua kendaraan harap diam di tempat pada posisinya masing-masing.  Ooo gitu…

Dari Lebak Bulus, kami naik angkot jurusan Parung yang super penuh.  Masya Allah, anak kami aja udah banyak, naik di angkot yang crowded pula!!

Tapi anak-anak gak ada yang mengeluh, termasuk si kecilku yang masih 1,5 tahun.

Di belokan menuju kompleks Reni, kami berhenti tapi tidak naik ojek karena kami menitipkan 2 motor kami di situ.  Kami pulang dengan kelelahan yang menumpuk, tapi senang karena bisa memberi pengalaman, pelajaran dan kenangan yang indah buat anak-anak, seperti kata orang bijak bahwa warisan terbaik yang diberikan pada anak-anak adalah kenangan indah yang akan dibawa seumur hidupnya……..

Satu Respon untuk Buku Harian

  1. ita mengatakan:

    Ass. Bu, saya baca tentang “Pelajaran Berharga”. Jadi ingat pernah baca sebuah artikel yang kurang lebih mengandung pelajaran serupa.
    Suatu pagi seorang top eksekutif BMW (kalo ga salah)uring-uringan karena kran kamar mandinya macet. Iapun menghampiri telepon dan menghubungi sebuah nomor perusahaan service pipa kecil yang didapatnya dari buku telepon.
    Saat sang top eksekutif menyampaikan keluhan, suara dari ujung kabel berujar “Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak atas kepercayaan Bapak untuk menggunakan jasa kami. Baik Pak. Kami akan segera datang ke rumah bapak,”.
    Tak lama berselang si tukang service datang. Ia sama sekali tak tahu bahwa ia berhadapan dengan seseorang yang membawahi sebiah perusahaan raksasa otomotif dunia dengan ribuan karyawan di seluruh penjuru dunia.
    Ia segera mengurai kemacetan pipa dan akhirnya membuat air kembali mengaliri pipa-pipa yang ada di seluruh rumah sang top eksekutif. Tak lupa ia memberikan beberapa tip agar kejadian tersebut tak terulang lagi. Setelah menerima hak dari kerjanya, sebelum pulang si tukang service kembali mengucapkan terima kasih atas kepercayaan sang top eksekutif memakai jasanya.
    Seminggu berselang, kerika sang top mendapat telepon dari si tukang service. Ia sempat bingung karena merasa sudah membayar tagihan service. Ternyata si tukang service menelepon untuk menanyakan apakah sang top puas dengan hasil kerjanya minggu lalu, apakah ada keluhan, dan bila ada jangan menghubunginya kembali. Lalu (lagi-lagi) ia mengucapkan terima kasih. Dan telepon tersebut sangat membekas dihati sang top.
    Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, si tukang service punya jabatan baru, Direktur Layanan Pelanggan BMW.
    Ketika ditanya apa alasan sang top mempercayakan jabatan yang cukup prestisius tersebut pada seorang tukang service, ia berujar “Bagi mereka yang bekerja di bidang jasa, bagian yang terpenting adalah bagaimana menyentuh hati konsumen dengan hati. dan itulah yang selalu diperbuatnya”

    Well, pesan menariknya, dimanapun kita, dengan siapaun kita berhadapan jika kebaikan yang kita sebar, kita akan menuai kebaikan pula. Ya ga Mi..??

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.