Rasa Kehilangan

April 28, 2009

24 April 2009

Tukang sayur langgananku tadi bercerita tentang seorang anak yang baru saja kehilangan ayahnya.  Kebetulan anak itu juga muridku di sekolah.   Ayahnya meninggal karena kecelakaan pesawat Aviastar di Wamena pada 9 April yang lalu (pas saat pemilu 2009).  Anak itu tadi meledek tukang sayur langgananku, yang juga langganan ibunya.  Katanya, “Kasian deh Abang, gak bisa ketemu Papa lagi….”.  Si Abang kontan terhenyak dan mengatakan dadanya terasa sesak menahan haru…

Begitu polosnya anak-anak sampai saat ia “yang seharusnya” merasa kehilangan malahan justru “mengasihani” orang lain atas rasa kehilangan yang ia miliki.  Padahal jika ia tahu, orang lain yang mendengar kalimat polosnya itu merasa sedih dan terharu.  Betapa ia yang masih sangat belia, – usianya sekitar 7 tahun-, sudah ditinggal orang yang mencintai dan dicintainya, ditinggal orang yang menjadi tulang punggung keluarganya,  ditinggal orang yang sangat berjasa dalam hidupnya, panutannya, idolanya….. Betapa…

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.  Dan sesunguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.  Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung.  Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”(QS Ali Imran (3): 185).

Begitulah Allah telah menggariskan dalam aturannya, bahwa hidup di dunia pasti ada akhirnya, ada kesudahannya, karena semua jiwa akan merasakan mati dan kembali ke hadiratNya untuk mempertanggungjawabkan semua amalan semasa hidupnya.  Dan beruntunglah orang-orang yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.  Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang beruntung itu.. Aamiin…


SEBELUM TERLAMBAT

April 3, 2009


Sering kita tidak menyadari bahwa kehidupan kita dapat berakhir kapan saja, dimana saja dan dengan cara apa saja. Inginnya kita dipanggil setelah anak-anak kita jadi “orang”, di tempat yang nyaman dan dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai dan kita cintai. Tapi pada kenyataannya semua itu adalah misteri ilahi, rahasia Allah, Sang Empunya Hidup.

Begitu pula yang dialami oleh sebagian manusia di muka bumi ini. Mungkin malam harinya mereka masih bersenda gurau dengan keluarga, masih bisa bercengkrama dengan handai taulan dan mungkin sedang merencanakan sesuatu di keesokan harinya. Siapa sangka? Sebagian dari mereka ternyata tidak menemui hari esok dan lepas nyawa dari jasadnya pada saat sedang terlelap, dengan cara yang berbeda-beda. Hanyut oleh air/gelombang, terbakar, tenggelam atau karena sakit.

“ Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di malam hari di waktu sedang tidur?”(QS Al A’raf:97)

Kita tidak mengetahui apapun yang akan terjadi karena hidup kita hanyalah saat ini. Jangankan esok hari, detik berikutnya dari yang kita alami saat inipun, kita tidak mengetahuinya. Jika kita selalu mengingat hal itu, insya Allah diri kita akan terhindar, paling tidak kita memiliki rambu-rambu dalam menjalani kehidupan ini. Tanyakan selalu pada diri kita, bagaimana jika nyawa kita melayang pada saat kita sedang berbuat keburukan, melanggar aturan Allah atau mendzolimi sesama? Na’udzubillahi min dzalik..

Berbuatlah yang terbaik kapanpun dan dimanapun mumpung Allah masih memberi kesempatan. Beribadahlah selagi Allah masih menganugrahkan kesehatan. Bershodaqohlah mumpung Allah masih menitipkan harta. Jika dengan kehendakNya, semua yang kita miliki telah diambil kembali olehNya, apa lagi yang bisa kita perbuat selain menyesal di akhirat.

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kami, lalu ia berkata: “Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh. Dan Allah sekali-sekali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya.  Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Munaafiquun: 10 -11).

Sebait doa hendaknya selalu kita panjatkan pada Sang Maha Hidup:

“Ya Allah…berikan kekuatan pada Kami untuk senantiasa istiqomah di jalanMu, menjalankan perintahMu dan menjauhi laranganMu…. Amiin”


Rajin Sholat

Januari 22, 2009

Dulu teman saya pernah bercerita sambil memuji teman kampusnya yang katanya rajin sholat. “Maksudnya apa?” tanya saya. Lalu dia mengatakan bahwa temannya itu rajin sholat lima waktu, “Gak pernah bolong,” katanya.

Waktu itu, saya yang notabene belum banyak mengenal Islam menjawab dengan gaya rada narsis, “Kalo itu sih bukan rajin namanya tapi wajib”. Teman saya bertanya lagi apa maksud saya berkata seperti itu.

“Kalo yang dia kerjakan sebatas kewajiban, ya namanya bukan rajin dong, emang itu udah wajib,” jawab saya polos.

Teman saya jadi diam seribu bahasa, tau deh ngerti apa enggak….

Ucapan saya waktu itu emang cuma pake logika sederhana, gak pake dalil atau ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi sekian lama saya akhirnya merenungi kembali ucapan saya itu, ternyata ada benernya juga sih. Jangan salah kaprah, kalo kita melakukan kewajiban seperti sholat lima waktu dan puasa Ramadhan, kayaknya gak usah deh kita menggelari diri kita dengan “rajin sholat” atau “rajin puasa”. Abis gak lucu aja, ngasih gelar rajin pada sesuatu hal yang udah seharusnya kita lakukan.

Bukan apa-apa, takutnya hal itu tanpa disadari akan membentuk “image tidak sengaja” dalam diri kita bahwa apa yang kita lakukan itu sudah cukup. Padahal mungkin masih banyak kewajiban-kewajiban lain yang belum kita lakukan. Entah karena gak tau (karena gak nyari ilmu sih?!), karena gak mau, karena gengsi, karena merasa belum waktunya dan sejuta alasan lainnya.

Padahal jatah umur kita siapa yang tau ya Bo? Mungkin setahun, mungkin seminggu, mungkin besok, mungkin lusa, jatah kita dah abis. Ibaratnya, detakan jantung kita kan lagi counting down nih, kalo dah nyampe angka nol trus kita belum sempat melakukan ibadah-ibadah wajib lainnya, gimana dong?

Apa kata Dunia? Apa kata Malaikat? Apa kata Allah?

Dikasih kesempatan koq malah enak-enakan aja?

Ada orang yang belum mau sholat karena merasa masih zuper zibuk, gak ada waktu geto loh! Ada yang belum mau puasa karena merasa kerjaannya zuper berat (ngangkat traktor kaleeee). Ada yang belum mau pake jilbab karena merasa belum siap (siap grak! maju ..jalan!). Ada yang belum mau ngeluarin zakat karena merasa harta yang dimiliki adalah hasil kerja kerasnya semata (padahal kalo Allah gak ngasih, pintu rizqi juga gak bakalan kebuka kan?)

Jadi maksud saya sih, kita (termasuk saya, of course..) jangan pernah merasa cukup dengan ibadah-ibadah yang udah kita kerjakan. Ya Allah… kayaknya malu banget yaa.. kita dibilang rajin padahal baru bisa ngerjain sedikit dari kewajiban yang seharusnya kita lakukan.

Semoga aja, Allah masih memberi kesempatan jantung kita untuk berdetak sehingga kita masih bisa terus meningkatkan amal ibadah, perlahan tapi….. PASTI!! Amiin…


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.